April 2014
M T W T F S S
« Feb    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Blogroll

  • -[merdekalah pikiran]- “Satu Bumi Milik Bersama…”
  • alamyin media berbagi seputar edukasi, inspirasi, ekonomi, dan lifestyle alternatif.
  • Arman Saputra Aktualisasi ‘tak Kenal Batas [melukis indonesia]
  • ioneGeo03 Berkarya tanpa batas, tanpa penindasan
  • Muh. Aris Marfai Head M.Sc program on coastal and watershed management, Geography Faculty, UGM and Head of International cooperation bureau, Geography Faculty, UGM
  • Yayat-geografi Salah satu Alumni mahasiswa UNM angkatan 2005, tepatnya di Jurusan Geografi Fakultas MIPA dan saat ini bekerja di Instansi Badan Pertanahan Nasional RI.



  • 12Feb

    GEOGRAFI PEMBENTUKAN NEGARA

    Buku karya Joe Painter ini mempelajari sejarah geografi dan Negara sebagai suatu sistem. Bahasan diawali dengan melihat hubungan antara ruang, lokasi dan susunan Negara modern. Buku ini turut berupaya mendefinisikan Negara sebeluum kemudian menentukan konsep-konsep utama terkait dengan Negara, yaitu; 1)proses pembentukan Negara; 2)hubungan antara politik tunggi dan rendah serta kedaulatan suatu bangsa; dan 3)proses yang mempengaruhi bentuk tipe bentuk suatu wilayah Negara.

    Dua hal yang perlu digarisbawahi; yaitu persiapan pembiayaan perang di satu sisi dan bangunan sistem administrasi dari aparat-aparat negara di sisi yang lain. Inti dari bahasan bab ini adalah, dalam konteks Eropa, penulis buku mempertimbangkan beberapa alasan kenapa pola aktivitas politik yang berkembang di suatu tempat kecil di dunia telah menjadi sistem yang dominan dalam mengorganisasikan seluruh dunia.

    Eksistensi Negara

    Negara adalah salah satu bahasan dalam geografi politik. Friderich Ratzel mengistilahkan Negara layaknya organisme, ia harus bergerak untuk bisa bertahan dan tumbuh. Geografi pembentukan Negara menekankan pada hubungan spasial dan bentuk wilayah; kekuatan yang menyebabkankan integrasi wilayah; serta perbedaannya dengan Negara tetangga. Pada tahun 1970an, geograf memahami konsep baru Negara yang diambil dari konsep ekonomi politik yang menunjukkan bagaimana kebijakan dan proses akumulasi capital berlangsung.

    Pasca perang dunia dua, muncul tantangan baru dengan adanya korporasi transnasional di berbagai bidang. Walaupun demikian, Negara masih cukup memiliki kekuatan mengatur kehidupan warga negaranya. Perang, setidaknya masih menyisakan sengketa tak berkesudahan dalam pengelolaan wilayah Negara, juga termasuk di dalamnya batas Negara satu dengan yang lain. Contohnya adalah klaim wilayah antara Palestine dengan Israel. Negara, menurut buku ini, adalah tujuan akhir bagi sekelompok manusia yang mendefinisikan dirinya sebagai bangsa. Negara bukanlah suatu proses yang alamiah, tapi merupakan hasil proses social politik.

    Manusia sudah ada sejak 400.000 tahun yang lalu. Namun eksistensi suatu Negara baru muncul tidak lebih dari 8000 tahun yang lalu dan menjadi popular dalam 50 tahun terakhir. Karekteristik suatu Negara sangat beragam dan kompleks, sehingga sulit mendefinisikan teori kenegaraan. Masing-masing wilayah mempengaruhi karakter Negara.  Karenanya, Negara tidak dapat disebut sebagai kesatuan terpusat, tapi merupakan kumpulan subsistem yang membentuk sistem yang lebih besar. Ada tiga poin menurut buku ini yang bisa disebut sebagai factor penyusun Negara; subsistem yang lebih kecil seperti lembaga dan kelompok sosial, jaringan antar subsistem itu, serta factor eksternal.

    Perlahan, Negara tidak hanya dilihat sebagai hasil proses social politik, tapi juga dianggap sebagai salah satu imbas factor fisik, atau alamiah dalam konteks kewilayahan. Keterkaitan negara dengan kewilayahanlah yang menjadikan ilmu geografi masuk dalam konstitusi negara. Dari sudut pandang geografi, Negara dilihat dengan sudut pandang lain. Diantaranya hal-hal yang penting dari kacamata geografi adalah 1) batas Negara adalah hal yang sangat vital dan perlu adanya penataan strategis; 2) Negara membagi daerah kekuasaannya menjadi beberapa subregional untuk memudahkan pengelolaannya; 3) geografi berperan penting dalam perencanaan pusat-pusat pelayanan secara spasial; 4) penyebaran pusat pelayanan mempermudah pengendalian populasi dan sensus pendidik; serta 5) pengendalian populasi bisa berdampak ketidakmerataan.

    Definisi Negara dalam Konteks Geografi Politik

    Dalam konteks ilmu geografi politik, tidak ada deskripsi yang pasti mengenai Negara. Pendefinisian menurut buku ini sangat bergantung pada esensi yang telah merubah tatanan, fungsi, dan nilai. Teori-teori tentang Negara yang dikembangkan dengan dasar ilmu politik lebih menggunakan pendekatan normative dan tidak merinci objek secara spesifik.  Peran factor fisik dalam sudut padang geografi menempatkan Negara sebagai organisme, sebuah proses yang masih dan terus berlangsung.

    Definisi mengenai Negara sepatutnya dapat sesuai bagi seluruh tipikal Negara, yang dapat menjembatai perbedaan musim, dinamiksa social, dan karakter Negara.

    Negara merupakan suatu konstitusi dari keadaan social secara spasial yang tergabung dalam institusi yang lebih besar atau lebih kecil dan juga hal-hal yang memaksa untuk mengklaim kepemilikan dalam suatu tatanan general social dan juga hal yang memproteksi konstitusi dan kebijakan dengan opini tertentu.

    Dalam buku ini Negara dikonstruksikan sebagai suatu konstitusi dari kondisi social secara spasial, terorganisi dalam institusi yang lebih besar dengan aturan dan hukum tertentu. Maka Negara sepatutnya adalah institusi struktural yang memiliki kewenangan dan kemampuan menguasai struktur social, mempengaruhi kebijakan, pemerintah maupaun konfilknya. Pada banyak kasus, aAda satu pihak yang tidak terlibat secara structural dalam hal di atas, tapi lebih berkuasa (contonya seperti mafia), hal tersebut  disebut ‘quasi-state’.

    Proses Pembentukan Negara

    Negara bukan hasil proses alamiah, tapi hasil proses social dan politik aktivitas masyarakt. Di Negara maju, masyarakat memiliki porsi untuk berpedan dalam pelaksanaan kebijakan. Dengan demikian, Negara bukan semata produk Negara tapi juga hasil dari aktivitas masyarakatnya. Mengutip pendapat Giddens dalam buku tersebut, Negara modern adalah konsekuensi yang tidak pernah terpikirkan dalam aktivitas internasional.

    Aktivitas masyarakat pada ujungnya sangat mempengaruhi bentuk Negara. Banyak Negara yang sukses mengelola dirinya, namun kemudian mengalami revolusi karena adanya kesalahan kecil dalam sejarah sehigga merubah bentuk Negara. Perubahan –baik revolusi maupun evolusi- membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan diterima masyarakatnya. Dalam sejarah, banyak bentuk-bentuk yang berkembang ditolak masyarakatnya karena anggapan hegemoni akan diri mereka oleh bentuk Negara yang baru. Intinya, bentuk Negara yang ideal  seringkali jauh untuk dicapai.

    Sebelum membahas formasi Negara, akan membantu jika dibahas dulu konsep politik formal dan informal serta politik tinggi dan rendah. Politik tinggi membahas mengenai  keamanan Negara yang melibatkan petnggi elit aparat Negara. Sebaliknya, politik rendah atau politik praktis membasa hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan perang dan militer dengan melibatkan elit Negara, utamanya pada bidang legislasi. Politik tinggi dan rendah memiliki bahasan yang berbeda –walaupun memiliki hubungan- dengan politik formal-informal. Politik tinggi meliputi potilik informal  (contohnya seperti hubungan antar kepala negara) sedangkan politik formal (dalam bentuk misi diplomatik dan komisi konstitusional).

    Keseimbangan antara agenda politik tinggi dan rendah sudah beribah. Pemerintah hari ini –pada saat buku ini terbit- didominasi politik tinggi. Ketika muncul banyak permasalahan, keseimbangan mulai hilang. Semakin banyak Negara sadar akan  masalah populasinya. Negara adalah insitutusi yang kuat. Yang berhak mengelola wilayah sesuai dengan apa yang diinginkannya.

    Negara Hasil Proses Perang

    Charles Tilly mengemukakan bahwasannya persiapan dan pengobaran perang merupakan suatu proses yang krusial dalam membentuk sistem kenegaraan yang baru di negara-negara Eropa, karena beberapa alasan; perang membutuhkan biaya yang mahal dan juga menimbulkan permasalahan yang kompleks. Karenanya negara membutuhkan penarikan pajak, pengerahan pasukan bersenjata, dan pengembangan lembaga-lembaga baru. Menurutnya, kemampuan negara untuk mempersiapkan dan mengobarkan perang sangat bergantung pada sumberdaya yang dimiliki penguasa seperti modal dan juga strategi perang, serta latihan yang sebagian besar telah direncanakan. Selain itu, strategi perang yang diadopsi dan proses pembentukan negara dipengaruhi oleh strategi dan lembaga dari para penguasa dan negara-negara lainnya.

    Kemenangan akan peperangan akan memperluas wilayah yang dimiliki oleh penguasa dan kemudian penguasa mulai untuk membatasi wilayahnya yang menghubungkan dengan negara-negara baru lainnya. Proses-proses dan strategi-strategi inilah yang mengakibatkan munculnya lembaga-lembaga kenegaraan yang dikembangkan oleh negara baru. Lembaga-lembaga yang terlibat antara lain, lembaga kas negara, bank negara, departemen perpajakan, kesatuan diplomatik, administrasi militer, akademi militer, tentara, angkatan laut, dan institusi-istitusi perwakilan dari kelompok sosial, seperti parlemen. Organisasi-organisasi ini membentuk inti dari aparat negara baru. Tidak ada satupun dari organisasi-organisasi tersebut yang dikembangkan secara sengaja untuk membentuk negara baru. Sebaliknya, organisasi-organisasi tersebut adalah produk yang dihasilkan sebagai konsekuensi dari alasan lain, yaitu persiapan dan pengobaran perang.

    Konstelasi perpolitikan di Eropa sepanjang abad pertengahan cukup terfragmentasi dengan berbagai bentuk pemerintahan; Negara, kota, dukedoms, kekhalifahan, juga kekaisaran. Masing-masing memiliji kepentingan masing-masing. Bentuk Negara bagi wilayah-wilayah baru hasil separatisme kekaisaran dinasti, dijadikan sebuah institusi yang kuan sebelum memutuskan untuk berperang. Negara-negara modern pada kasusnya hari ini, lebih banyak memiliki kesamaan dan telah banyak meninggalkan tradisi pendahulu mereka. Proses diferensiasi dan kemudian konvergensi inilah yang dikemukakan oleh Charles Tilly sebagai inti pembentukan suatu negara.

    Dalam buku mereka The Arch, Philip Corrigan dan Derek Sayer berpendapat bahwa pembentukan negara harus dilihat sebagai proses budaya. Factor-faktor pembentuk Negara selain factor budaya diantaranya adalah militer, politik dan fenomena ekonomi. Sebagai proses budaya, hal ini menunjukkan bahwa, yang pertama proses yang dialami adalah proses simbolis dengan organisasi/lembaga Negara atau materi. Yang kedua Negara tidak hanya semata seperangkat institusi, tetapi juga satu set pemahaman – cerita dan narasi yang menceritakan tentang negara itu sendiri dan membuatnya masuk akal (dengan cara tertentu). Termasuk di dalamnya adalah mitos dan legenda, sejarah resmi negara, atau fiksi dan drama yang mewakili mengirim negara, rakyat dan pemerintah pada khususnya. Ketiga, Negara bukan semata milik birokrasi, tapi juga masyarakat. Maka birokrasi hendaknya bisa menyatu dengan seluruh elemen bangsa menjadi satu kesatuan utuh dalam menjalankan Negara.

    Imperialisme dan Negara

    Imperialisme memiliki peran terhadap pembentukan sebuah negara. Imperialisme dapat mempengaruhi pembangunan sebuah negara dengan 2 cara. Pertama, selama munculnya kerajaan-kerajaan di luar benua Eropa budaya imperialisme memiliki peran penting dalam kondisi pembentukan negara Eropa. Kedua, selama periode dekolonisasi wilayah teritori dan aparat administrasi dilimpahkan kepada wilayah yang baru merdeka oleh para imperialis yang menjadi pusat pembentukan negara-negara di bagian Selatan. Sedangkan paham kolonialisme memiliki pengaruh yang besar terhadap pembangunan di negara-negara seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Dalam proses kolonisasi pemerintah kekaisaran beroperasi di wilayah teritori yang telah dipetakan. Batas-batas wilayah tersebut sebagian adalah hasil konflik antara kekuatan-kekuatan wilayah imperialisme, sebagian adalah wilayah terjajah, dan sebagian lainnya adalah konsekuensi dari adanya keinginan imperialis untuk mengatur ruang agar dapat mengeksploitasi sumberdaya.

    Pada akhirnya negara-negara yang baru merdeka melakukan dekolonisasi wilayah dengan memetakan pemerintahan penjajah, namun langkah ini tidak menumbuhkan keterkaitan antara sosial dan geografi politik pada masa pre-kolonial. Tidak adanya hubungan antara sosial dan geografi politik ini dapat melemahkan kapasitas negara dalam aktivitas penting mereka pada masa paska-kolonial. Mereka juga mewarisi aparat negara dengan kebudayaan yang asing dan dirancang untuk tujuan menaklukkan penduduk lokal dan memfasilitasi penyaluran sumberdaya ke pusat kota. Kebijakan ini tidak membawa awal yang menguntungkan bagi negara-negara yang baru merdeka, lebih baik mereka melakukan tindakan-tindakan kecil daripada hanya sekedar menerapkan model yang dilakukan negara-negara modern. Negara modern memiliki kesulitan tersendiri dimana mereka sangat bergantung pada sumberdaya yang besar untuk dapat melakukan berbagai aktivitas sedangkan sumberdaya tersebut ketersediaannya terbatas. Negara modern lebih mementingkan pembangunan negaranya daripada membantu untuk membenahi perekonomian negara-negara miskin. Kebijakan yang dilakukan oleh negara-negara di bagian selatan ini dianggap gagal oleh Ron Johnson dalam menjamin pembangunannya sehingga memunculkan ketidak stabilan kegiatan politik di berbagai wilayah, dan lebih lanjut berdampak pada munculnya paham-paham liberal.

    Namun, anggapan bahwa paham negara Eropa tersebut membawa pengaruh yang luas terhadap negara-negara diluar Eropa merupakan sebuah kesalahan dalam konteks yang berbeda. Ilmuwan politik Jean Francois Bayart mengemukakan negara-negara bagian Afrika tidak stabil, lemah, tidak efektif, dan korup. Menurutnya hal ini tidak hanya merupakan penghinaan namun juga tidak akurat. Kegagalan negara di Afrika terjadi bukan karena negara-negara Eropa, hal itu terjadi karena pertumbuhan penduduk lokal yang sangat laju dan pengaruh ekonomi global. Kegiatan politik Afrika dan formasi negaranya harus dipahami dalam istilah mereka sendiri dengan sewajarnya, bukan sebagai penyimpangan patologis dari norma-norma Barat. Masyarakat luas tidak mungkin seluruhnya dapat menghindari model dari negara-negara modern-birokratik, teritoral, kompleks dan militer-semenjak adanya tekanan dari negara Eropa hingga batas tertentu menjadi global dalam pandangan mereka. Bayart menggaris bawahi bahwa negara dalam masyarakat yang berbedadapat mengambil bentuk yang berbeda dan harus dipahami sebagai produk dari sejarah negara mereka sendiri.

    Nasionalisme

    Pada abad kedua puluh muncul gagasan baru yang membawa pengaruh besar dalam pergerakan, yaitu nasionalisme. Anti imperialisme yang mana menciptakan negara merdeka dengan bentuk nasionalisme sebagai upaya untuk mengembangkan rasa kebangsaan dan rasa memiliki negara sehingga tidak hanya sebagai tempat tinggal di wilayah negara yang sama. Bentuk nasionalisme lainnya, didasari oleh berbagai konstruksi dari identitas etnis untuk dipahami sebagai sebuah negara. Namun hal itu tidak cukup untuk membentuk sebuah negara, tapi mereka memiliki kekuatan yang ekstrim sebagai perjuang nasionalis yang dibuktikan dalam pembentukan Yugoslavia yang dimulai pada tahun 1991. Melalui bahasan tersebut, Bayart mengemukakan bahwa formasi negara harus dipahami sebagai seluk-beluk sejarah dan konteks geografi. Tidak hanya seperti kasus yang terjadi di Afrika tetapi juga di negara manapun, termasuk negara-negara seperti Cina, Jepang, Asia Tenggara, dan Rusia. Negara-negara tersebut mengalami formasi proses yang berbeda. Seluruh negara di dunia ini sebagai contoh negara-negara modern pasti memiliki perbedaan. Bagian-bagian negara yang ada di permukaan bumi ini merupakan sistem terbentuknya negara, dimana saling melakukan pengakuan klaim kedaulatan dan pertukaran ide dan informasi tentang tujuan negara dan apa yang akan dilakukan, sehingga negara modern telah dipahami sebagai sebuah proses alami.

    Negara Modern

    Dalam mendefinisikan Negara-negara modern, Giddrits Anthony menyebut Negara modern sebagai kekuasaan administratif. Michael Mann, seorang sosiolog telah menarik 3 perbedaan antara kekuasaan despotic dan kekuasaan infrastruktur. Kekuasaan despotik adalah istilah untuk kekuasaan elit negara untuk melakukan hal-hal tanpa referensi ke seluruh masyarakat. Sebaliknya, kekuatan infrastruktur mengacu pada kemampuan negara untuk ‘menembus’ masyarakat sipil dan mencapai hasil.

    Belakangan, kekuasaan administratif, pengawasan dan kontrol dari masyarakat, serta munculnya strategi untuk pengamanan internal dan kontrol sosial menjadi sangat penting. Fungsinya, hal itu telah dipahami sebagai transformasi budaya maupun politik, ekonomi dan militer. Saat ini negaralah yang memiliki kekuatan untuk mewujudkan dan melakukan pengawasan untuk kepentingan sosial tertentu. Hal ini merupakan tidak tepat karena mengandung kepentingan-kepentingan bagi pihak tertentu.

    Definisi era modern sendiri menurut Giddens ada 4 hal, yaitu;  produksi industri, kapitalisme sebagai cara mengatur produksi, pengawasan tinggi, dan control terpusat. Tetapi dari keempat sumbu diatas yang paling berpengaruh adalah pengawasan dan pengamanan. Geografi memiliki peran dalam melakukan pengawasan rutin yang membutuhkan tingkat kekuasan infrastruktur yang tinggi dan praktik kelembagaan melalui seluruh populasi. Lembaga tersenut tersebar di seluruh wilayah Negara. Hirarki kelembangaan yang baik memungkinkan perluasan kekuasaan Negara dari pusat sampai keperbatasan.

    Menurut Giddens dalam buku tersebut, ada dua kondisi dimana perkembangan tidak dapat ditolerir dan harus dibatasi. Yang pertama adalah keterbatasan lahan akibat pertumbuhan yang pesat baik di desa dan kota serta berdampak pada kerusuhan dan kemiskinan. Kedua, Negara menjadi semakin kawatir dengan pemisahan kelompok sosial tertentu yang dianggap menyimpang atau tidak normal.

    Pengawasan dalam suatu Negara bukan hal yang mudah dan tanpa tantangan. Banyak pihak yang mengambil jarak dan mencoba menutup keran pengawasan ini. Berkembangnya sektor informal seringkali luput dari pengawasan. Dalam kasus lain, perdagangan alternative banyak memotong struktur formal kekuasaan Negara. Pada dasarnya sistem control yang sempurna dan lengkap memang sulit ditemui. Selalu ada celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk mensiasati struktur formal dan pengawasan yang ada. Dengan demikian, kapasitas Negara dalam melakukan monitoring harus ditingkatkan dengan memaksimalkan teknologi yang ada.

    Tulisan ini dapat anda download di academia.edu melalui akun Novita Anggraeni


    Permalink

  • 07Dec

    Bahwa semua cabang ilmu pengetahuan empiris yang masing-masing mempelajari gejala (phenomena) di permukaan bumi tanpa memahami dan peduli sistem interrelasi, interaksi, dan interdependensi bagian permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan) itu dengan manusia pasti akan membuat kerusakan di muka bumi. (Hallaf, 2012)

    Saat ini geografi sebagai ilmu pengetahuan memiliki 2 cabang yang saling melengkapi (complementary) yaitu (1) Geografi Fisik (Hidrosfir, Litosfir, Atmosfir, Biosfir), dan (2) Geografi Manusia (Antroposfir). Untuk menggabungkan keduanya secara holistic synthesis aspek fisik dari geografi membutuhkan ilmu murni lain seperti hidrology, climatology, biogepgraphy, geomorphology, meteorology, dan pedology; sedangkan aspek manusia dari geografi membutuhkan ilmu murni lain seperti social geography, cultural geography, economic geography, behavioral geography, political geography, dan urban geography. Pada gilirannya untuk mengamati fenomena kajiannya, geografi membutuhkan ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science) diantaranya remote sensing, cartography, dan quantitative method. Mereka yang memahami dan ahli di bidang ilmu geografi dan terampil dalam ilmu terapannya biasa kita kenal dengan istilah “geograf” atau “geografer”.

    Geografer

    Seorang geografer dituntut untuk mampu mengkaji tentang fenomena bumi, lingkungan alami, dan kehidupan sosial-masyarakat. Meskipun secara empiris mereka dikenal sebagai orang-orang yang membuat dan menggunakan peta, tapi pembuatan peta sebenarnya bidang studi ilmu kartografi, bersama-sama dengan ilmu Sistem Informasi Geografi (SIG) dan Penginderaan Jauh (Inderaja). Seorang geograf tidak hanya mempelajari secara detil mengenai ilmu lingkungan alam atau kehidupan manusia saja, tetapi juga mereka mengkaji bagaimana lingkungan fisik (alami/natural) memberikan kontribusi kepada manusia (human society) dan bagaimana manusia mempengaruhi (affects) lingkungan fisik tersebut.

    Geografer juga perlu memiliki suatu pandangan filosofi pendekatan yang tajam untuk melihat secara tepat mengenai fenomena geografi (Geographic Phenomena). Kemampuan melihat fenomena-fenomena itu didasarkan pada satu pandangan keruangan (Spatial Oriented); artinya seseorang ahli geografi melihat sesuatu objek di dalam konteks keruangan. Jadi, Materi atau objek atau gejala pada permukaan bumi yang berdiri sendiri tidak penting bagi geografi; baru menjadi penting bila materi yang satu dipertautkan dengan materi yang lain; karena adanya kombinasi dari objek atau gejala-gejala dapat menimbulkan berbagai macam kebedaan wilayah dari tempat ke tempat.

    Kecerdasan Spasial

    Pada masa lalu, para filosof Yunani mengungkapkan bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paling cerdas. Namun kecerdasan itu harus dilatih agar bisa tampil keluar, serta dilihat oleh orang lain. Seseorang yang cerdas, maka ia bisa menjadi manusia seutuhnya, jika menguasai ilmu (filsafat), seni, dan olahraga; ketiga hal itu sudah ada dalam diri manusia. Seorang Ahli Psikologi yang bernama Howard Gardner, mendefenisikan setidaknya ada delapan kecerdasan manusia. Kedelapan kecerdasan itu adalah kecerdasan Linguistik, Kecerdasan Logistik-matematis, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan kinetik-jasmani, Kecerdasan musikal, Kecerdasan interpersonal-sosial, Kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis.

    Telah dibahas sebelumnya jika materi atau objek atau gejala pada permukaan bumi yang berdiri sendiri tidak penting bagi geografi; baru menjadi penting bila materi yang satu dipertautkan dengan materi yang lain; maka seorang calon geograf dituntut untuk menajamkan kecerdasan spasial. kecerdasan spasial ini dapat mengantar pada kemampuan mempersepsi dunia real menjadi visual spasial secara akurat serta mentransformasikan persepsi dalam berbagai bentuk utamanya peta. Dari kecerdasan spasial ini maka seorang geografer akan menghubungkan konsep-konsep yang ada pada bidang geologi, klimatologi, pertanian, ekonomi dan bidang-bidang lain yang terkait dalam kajian geografi manusia dan geografi fisik.

    Keterampilan Spasial

    Menurut saya, cerdas hanyalah awal, berikutnya haruslah terampil dan memiliki kreatifitas. Untuk itu, maka kecerdasan spasial harus ditumbuhkembangkan secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Secara kognitif misalnya dengan melatih diri memahami material spasial, misal dengan sketsa, denah, foto, peta, maket, menonton film bertema petualangan dan sebagainya.

    Secara afektif, untuk membangun sikap, apresiasi seorang di bangun dengan membiasakan diri membaca peta atau sketsa Film “Dora” juga dapat dipandang turut berkontribusi di sini, utamanya untuk usia anak-anak. Film seperti National Treasure, Tomb Rider, Sherpas’s, Farther That Eye Can See, 80 Meter Below Summit, Everest Beyond Limit, Surviving Everest, Hillary And Tenzing, North Face, Cartensz Siedma Hora, Into Thin Air dan film petualangan lainnya. Discovery Chanel dan National Geography juga sebuah rujukan yang menarik.

    Untuk psikomotorik, life skill spasial akan tumbuh ketika seseorang jadi terbiasa dalam mendokumentasi aspek-aspek spasial meski hanya untuk catatan pribadi. Misalnya ketika membuat album foto yang bercerita tentang liburannya, dia juga membuat deskripsi yang cukup rinci, atau bahkan dilengkapi dengan sketsa atau denah tempat liburan tersebut. Membiasakan diri menggunakan aplikasi pemetaan ataupun Google Earth dan Google Map dalam kehidupan sehari-hari sangat dianjurkan.

    Kecerdasan dan Keterampilan Geografi

    Seperti apa kecerdasan geografi? Menurut saya, kecerdasan geografi itu hanya akan dimiliki oleh seorang geograf ketika memahami secara mendalam dan komprehensif kajian-kajian di bidang ilmu murni (pure science) dari geografi yaitu yaitu (1) Geografi Fisik (Hidrosfir, Litosfir, Atmosfir, Biosfir), dan (2) Geografi Manusia (Antroposfir). Sedangkan, untuk keterampilan Geografi seorang geograf dituntut untuk mahir dan mendalami  ilmu Pengetahuan Terapan (Aplied Science) dalam mengamati fenomena geografi diantaranya remote sensing, cartography, dan quantitative method.

    Kecerdasan dan Keterampilan Geografi akan mengantarkan geografer pada apa yang ditegaskan oleh Michael Chislom, bahwa: Geografi mempelajari fenomena-fenomena dalam hubungannya dengan ruang muka bumi, menyangkut pola keruangan, hubungan keruangan (pada ruang yang terbatas dan hubungannya dengan ruang muka bumi keseluruhan). Oleh sebab itu, Geografi memiliki ruang lingkup yang luas yang menerobos bidang-bidang ilmu lain dan menghubungkan konsep-konsep yang ada pada bidang geologi, klimatologi, pertanian, ekonomi dan bidang-bidang lain (seperti tampak pada nama-nama cabang Geografi). Untuk dapat menghasilkan pekerjaan bermutu, idealnya Geografer mengusai semua bidang tersebut. Tetapi jelas ini hal yang mustahil. Oleh sebab itu paling tidak Geografi memiliki kecakapan tertentu dalam bidang-bidang ilmu yang berdekatan dengan bidangnya sendiri, yang memungkinkan ia dapat menilai pekerjaan yang dihasilkan bidang lain yang berdekatan tersebut. (Chislom, M., 1970)

    Akhirnya, kecerdasan dan ketrampilan spasial (spatial ability) yang dimiliki oleh seorang geograf akan mampu menganalisis Identitas spasial dalam bentuk spatial patterns, spatial distributions, spasial relations, dan spasial differentiation dalam menjawab fenomena alam (fisik dan human society) dimasa lalu, masa kini, dan memprediksi dampak dimasa depan.

    Visi Geografer

    Setelah kita menjadi geografer, lantas kenapa? Mungkin kutipan dari seorang dosen kepada para mahasiswanya ini bisa memberikan inspirasi (Hallaf, 2012):

    “Di muka bumi masih banyak kawasan yang belum diungkap dan dijelaskan hakikat karakteristik wilayahnya; belum lagi proses dan perubahan-perubahan yang selalu terjadi. Karena itu, lakukan perjalanan, lakukan pengamatan. Masih banyak bentanglahan yang belum terbaca; maka temukan dan bacalah dengan nama Tuhan-mu yang menciptakan, lalu tulis dan tulislah. Mahasiswa Geografi, jadilah penemu. Jadikan dirimu ibarat elang laut yang senantiasa haus data, haus informasi, lapar ilmu pengetahuan dan lapar teknologi. Kepakkan sayapmu dengan paruh dan cakar yang kokoh, terbang melanglang bumi; namun engkau tetap elang yang geografik yang senantiasa siap menangkap mangsa.”

     Geografer Seutuhnya

    Dalam berbagai kutipan, Prof. Dr. I Made Sandy sering mengingatkan bahwa TANPA PETA MAKA TIDAK ADA GEOGRAFI, beliau juga menyatakan bahwa “peta tanpa geografi akan jalan tetapi menjadi geograf/geografiwan tanpa peta tidak akan jalan”. Seorang gegrafer hanya bisa membaca, menafsirkan, dan menganilisis peta dengan kecerdasan spasial.

    Lantas untuk menjadi “geografer seutuhnya” tentulah tidak hanya sanggup untuk menjawab persoalan dengan membaca, menafsirkan, dan menganalisis peta semata tapi dituntut untuk sanggup membaca, menafsirkan, menganilisis fenomena geografi yang diamatinya dan menggambarkannya secara akurat diatas lembaran-lembaran peta. Prof. Dr. I Made Sandy juga sering berpesan bahwa “seorang geograf adalah orang yang bekerja dengan peta untuk menghasilkan peta” dan menurut saya seperti itulah geografer sejati.

    Sayangnya untuk melahirkan sebuah peta yang proporsional yang terdapat dalam “ruang imaginer” seorang geografer secara tepat dan akurat; seorang geografer tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan spasial tapi juga harus memiliki kecerdasan linguistik (word smart), kecerdasan matematis (logic smart), kecerdasan kinestetis (body smart), kecerdasan seni (art smart), kecerdasan knterpersonal (people smart), kecerdasan intrapersonal (self smart), dan yang pasti kecerdasan naturalis (nature smart). Perjalanan eksplorasi dan pemetaan tidak hanya membutuhkan “keberanian” tapi juga kecerdasan termasuk saat harus mempresentasikannya dan menghadirkan peta-nya sehingga dapat bermanfaat bagi “dunia nyata”.

    Geografer dan Masa Depan Ilmu Geografi

    Saya memiliki sedikit kehawatiran tentang sebuah kondisi ketika geografi sebagai ilmu murni (pure science) menuju jurang stagnasi pada titik ambigu ketika ilmu para geografer ini tidak mampu menjawab perubahan fenomena zaman posrealitas sebagai realitas kebudayaan dalam era posmetafisika. Masihkah nantinya geografi berperan sebagai ‘helping people manage the world‘? ataukah hanya menjadikan motto ‘present is the key to the past‘ sebagai motto suci namun utopia terhadap masa depan?

    Hallaf, 2012 dalam bukunya “mengamati fenomena geografi” telah memprediksi tantangan-tantangan geografi kedepan, sehingga beliau mencoba membangkitkan semangat para geografer untuk Pe-De (percaya diri) dalam semangat untuk terus belajar, dan semangat itu diterjemahkan sebagai ‘Semangat Mengamati’ yang merupakan proses memproduksi gagasan untuk membangun teori. Beliau juga berpendapat bahwa Teori, hipotesis dan paradigma belum ada yang selesai, belum ada yang final dan akan tetap bergulir, berubah dan berkembang sejalan dengan perkembangan pengalaman dan pengetahuan manusia.

    Sejalan dengan semangat tersebut, Prof. Dr. Sutikno (2008) juga mengigatkan bahwa Geografi sebagai ilmu pengetahuan yang pernah disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of sciences) mengalami pasang-surut peranannya untuk memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Apabila geografi tetap ingin berperan dalam memberikan sumbangan pemikiran dalam kebijakan pembangunan, geografi harus mempunyai konsep inti, metodologi dan aplikasi yang mantap.

    Cinta Geografi

    Saya salut pada para geografer pendahulu yang memiliki kecerdasan luar biasa di negeri ini. Menurut seorang penerbit dari Dygna Pustaka dalam sebuah jamuan makan malam di jogja, berpendapat kepada saya bahwa mereka tidak hanya “sekedar memahami” ilmu geografi lagi, tapi mereka “telah mencintai (Al-Mahabbah)” ilmu tersebut dan dalam diri merekalah ilmu tersebut bersemayam secara komprehensif.

    Sayapun bergumam dalam hati jika kelak bukanlah bulatnya bumi yang membuat ilmu geografi tetap hidup dan memberi manfaat ketika fenomena zaman posrealitas sebagai realitas kebudayaan dalam era posmetafisika hadir, tapi kecerdasan para geografer-lah dan kecintaannya terhadap ilmu geografi yang akan membuat ilmu geografi tetap hidup ketika para geografer mampu mengembangakan setidaknya tiga aspek yaitu aspek ontologis, aspek epistemologis dan aspek aksiologis atau aspek fungsional dari ilmu geografi itu sendiri.

    Beruntunglah negara ini pernah hidup figur seperti I Made Sandy, Kardono Darmoyuwono, Bintarto, dan saat ini Sutikno dan Hallaf masih tetap berkarya. Merekalah di mataku figur geografer seutuhnya, bersama geografer pendahulu yang mencintai ilmu geografi di negeri ini telah mempersiapkan kehadiran geografer-geografer baru yang akan berdiri menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang menjadi keniscayaan dalam setiap nafas kehidupan seluruh spesies hidup di planet bumi penghuni jagad raya ini.

    Bacaan:

    Campbell, Linda. 2002; Multiple Intelligences : Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan. Depok: Inisiasi Press.

    Chislom, Michael. 1970; Geographic and Economics. London: Bell & Sons Ltd.

    Prasad, A. Hallaf Hanafie. 2012; Mengamati Fenomena Geografi. Yogyakarta: Dygna Pustaka.

    jalaluddin-rumi-p.blog.ugm.ac.id

    Permalink

  • 29Nov

    Sebuah pertemuan singkat namun sangat berkesan; itulah mungkin sebuah catatan yang bisa kutorehkan dari pertemuan kami semalam antara saya, Rusdi, Pak Maddatuang dan Pak Sulaiman. Mereka (Pak Maddatuang dan Pak Sulaiman) datang mengunjungi Jogja dalam sebuah perjalanan study tour bersama mahasiswa geografi asal Universitas Negeri Makassar. Peluang itu kami manfaatkan (saya dan Rusdi) untuk menemui mereka, melepaskan segala kerinduan, bertukar cerita, ngopi bareng, dan kami menemukan diri kami seperti seorang anak yang merengek dan berkeluh kepada orang tuanya, seperti murid yang telah lama berpisah dengan gurunya. Berdialog  tentang banyak hal dan fenomena yang telah membuat kami bingung tentang realitas di konstruksi sosial yang berbeda (meski sebuah keniscayaan).

    Refleksi Gelas Kopi

    Kami merefleksikan diri kami kembali, sebuah perincian identitas tentang geograf yang memandang geografi kembali. Sebuah kajian tentang bagaimana kita harus memandang sebuah objek kajian materi, tentang apa, dimana, bagaimana, mengapa, dan kenapa sebuah objek. Pak maddatuang dan Pak Sulaiman menggunakan sebuah gelas kopi yang ada didepannya sebagai alat peraga analogi dan menggambarkan tentang mengapa gelas itu datang, bagaimana gelas itu datang, hubungan gelas itu dengan tempat lain diluar ruang meja kami ngobrol, dapur dan tempat kami berdiskusi, dan menggariskan wilayah interelasi, interdependensi, interaksi ‘sebuah gelas’ dengan dapur, kamar, dan tempat kami ngobrol. Itulah geografi kata beliau. Ketika kita mengkaji tentang bahan pembentuk gelasnya, cara mencuci gelasnya, dan bagaimana kopi dibuat untuk bisa dinikmati, kita (geograf) membutuhkan teori dari ilmu lain untuk menjawabnya.

    Terseret Arus

    Salah satu peran kami adalah mengkritik, beliau berucap; ucapan itu langsung saya tangkap dengan cepat ‘pak, kami datang menemui bapak bukan sekedar melepas kangen, kami juga ingin di kritik’… semua tersenyum. Kritikan pun hadir tentang bagaimana geografi pada tataran penajaman kajiannya seperti kehilangan jejak ‘human geography’. Kita (geograf) seperti terlalu menempatkan geografi dalam parameter-parameter dan praktek metodologinya terlalu ber-style matematika dan fisika dalam benakku membenarkan pemikiran beliau.

    Geografi yang menggunakan teori-teori dari ilmu lain sebagai pendekatan (geography approach) dalam mengamati objek kajiannya terkadang terseret arus kuat dari magnet ilmu lain yang digunakan. Diumpamakan oleh Pak Sulaiman dengan mengilustrasikan tentang geograf yang mengamati flora tapi kehilangan jejak biogeografi-nya. Sayapun mengeluh tentang SIG sebagai tools bagi geograf yang kadang terperangkap di dalam kajian ilmu “Teknologi Informasi” milik rumpun keilmuan teknik dan terseret arus ‘logika bolean’ dan kehilangan jejak ‘logika spasial’. Sebuah kesempatan untuk bermanja-manja intelektual bersama rusdi dengan memanfaatkan kehadiran dua orang tua kami dari Makassar tersebut.

    Kritik Postmodernisme vs Geografi Bunuh Diri

    Rusdi mengeluhkan tentang wacana yang dilemparkan oleh Dr. Yasraf Amir Piliang, tentang terbunuhnya ruang oleh waktu dan matinya geografi dalam buku DUNIA YANG DILIPAT. Mendengar keluhan Rusdi tersebut, mataku langsung menatap kembali ke pak Maddatuang, saya menunggu jawaban dari beliau, karena itu diluar kapasitas saya untuk mengomentari keluhan Rusdi itu. Pak Maddatuang tau, kami lagi haus jawaban, dan tanpa berspekulasi dari keluhan Rusdi, beliau bercerita tentang pendekatan sosiologi kontemporer tentang postmodernisme. Sambil mendengarkan penjelasan pak Maddatuang, mataku kembali mengarah ke wajah Rusdi, dan melihatnya mengangguk-angguk, seperti sedang menikmati kalau jalan pikirannya telah terbaca oleh pak Maddatuang bahwa jawaban yang di tunggunya adalah jawaban yang menggunakan pendekatan postmodernisme.

    Beberapa pemikiran tokoh seperti Foucault menjadi pendekatan jawaban dari pak Maddatuang. Tentang ‘sejarah kegilaan’, dimana kita yang berbeda dengan mereka untuk membedakan identitas, dan mereka yang berbeda akan terdefenisi gila. Geografi akan mati??? Itu mungkin saja kata beliau, tapi yang membunuhnya bukan orang lain (baca: ilmu lain) tapi dari para geograf sendiri. Sebut saja misalnya pengkaburan atau peleburan geografi menjadi geospasial, ketika masa depan geograf menganggap sama antara geografi dengan geospasial. Geografi menjadi geodesi, geografi menjadi geologi, geografi menjadi…. dst. Ketika ilmu-ilmu lain telah terpecah menjadi 600-an lebih cabang ilmu, geografi tetap bertahan (tegas beliau). Ketika geografi dipecah-pecah, dikotak-kotakkan secara membabi buta, dengan alasan tuntutan permintaan zaman, maka titik balik peradaban geografi sudah mulai dan ‘mungkin’ berujung pada kematian. Geospasial bagian dari geografi tapi bukan geografi itu sendiri, ibarat telinga bagian dari tubuh manusia, tapi telinga bukan tubuh. Ilustrasi sederhana tapi saya langsung memahaminya.

    Gimana biar geografi tetap hidup, hanya itulah yang bisa saya tanyakan… beliau bertanya balik, ambil program apa di UGM nak? MPPDAS jawabku singkat, jangan terperangkap lama pada ‘ilmu manajemen’ kalau begitu, manajemen sebagai penghubung, DAS dan pesisir sebagai objek kajiannya, pandanglah dan dalami DAS dan pesisir dengan geografi bukan yang lain. Geografi akan mati jika para geograf sudah masuk diambang ‘ambigu’ dan kehilangan identitas mengenai jati dirinya. Postmo sedang mengkritik geografi dan itulah salah satu perannya seperti mengkritik fenomena sosial dalam kehidupan manusia lainnya.

    Sebuah pencerahan yang luar biasa dari seorang dosen sekaligus guru geografi saya. Saya menangkap nasihat beliau sambil terbayang pemikiran Nietzche Bapak spiritual posmodernisme kelahiran Jerman; sang destruktif, yang telah mengkritik Tuhan. “Tuhan sudah mati! Tuhan terus mati! Kita telah membunuhnya!.” Kemudian, Nietzche mengucapkan selamat tinggal, “semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi.” Tak berhenti disini, Ia juga menghantam segala model Tuhan seperti ilmu pengetahuan, prinsip-prinsip logika, rasio, sejarah dan progress. Pemikiran Nietzche lalu digugat oleh para ulama dan petinggi agama dari seluruh dunia yang merasa memiliki legitimasi “Tuhan”. Pemilik legitimasi Tuhan itu mungkin tidak sanggup mendefinisikan fenomena realita bahwa Tuhan sebagai simbol kepastian dibunuh, maka ketidakpastian telah berubah menajadi kepastian itu sendiri; manusia terjebak dalam kepastian nihilisme. Kematian Tuhan menjelma menjadi kepastian, yang berlanjut pada runtuhnya seluruh tatanan nilai dan makna. Tuhan disini menunjuk pada segala bentuk model jaminan kepastian untuk hidup dan dunia. Suatu ketika nanti, boleh jadi akan muncul jaminan kepastian baru—yang berarti posisinya adalah Tuhan–, ini bisa berupa pendapat, kebenaran-kebenaran yang diyakini, dan pandangan-pandangan yang dipertahankan. Posmodernisme telah mengkritik Tuhan, yang sesungguhnya penganut agama Tuhan-lah yang telah membunuh hokum-hukum Tuhan dalam perilakunya.

    Mungkin geografi juga akan mati, dibunuh oleh para geograf-geograf penganut ilmu geografi sendiri. Sosiologi kontemporer telah memberi peringatan, dan realita itu memang sedang mengarah kesana. Resah???!!! Tapi itulah realita, lakukan sesuatu atau Geografi akan mati seperti matinya Tuhan.

    Beruntung

    Sebuah malam yang panjang, membuatku dan rusdi beristirahat sejenak sembari merefleksikan diri kembali sebagai seorang geograf. Kehadiran mereka berdua (pak Maddatuang dan pak Sulaiman) seperti menghapus kerinduan kami dengan dunia kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Kami bercerita banyak hal, seperti sedang nongkrong di kantin kampus UNM atau di lapangan parker jurusan Geografi. Beruntunglah kami yang pernah di besarkan oleh mereka. Beruntunglah kami karena mereka masih ikhlash meluangkan waktunya untuk menasehati kami dari sudut pandang yang berbeda, beruntunglah kami yang masih diberi nafas dialektika oleh mereka untuk menjaga dan tetap konsisten sebagai seorang geograf.

    Hal terbaik yang kami miliki adalah, kami dibesarkan oleh “bukan orang sembarangan” dari TIMUR sana. Disana terakumulasi orang-orang luar biasa, memiliki pandangan hidup dan prinsip yang berbeda, namun tetap harmonis dalam bingkai keilmuan. Keep on the geograf, keep smile and stay cool.

    Permalink

  • 05Nov

    Setiap gejala nyata menampakkan pada manusia di dalam persepsi-persepsinya. Gejala itu disalin, difoto, direkam, digambarkan oleh persepsi itu. Kesadaran seseorang terhadap gejala lingkungan misalnya, tersimpan di dalam fikiran sebagai gambaran tentang lingkungan tersebut yang disebut pola fikiran atau peta kognitif (Piaget menyebutnya skema kognitif). Peta kognitif tersebut berperan untuk :

    a. memecahkan masalah keruangan yang menuntut keputusan yang efisien tentang lokasi obyek dan tempat yang dipermasalahkan, dari yang paling sederhana sampai kepada yang kompleks.

    b. memberi arah kepada perilaku terhadap lingkungan (sesuai dengan peta kognitif yang dimiliki), baik itu rasional maupun irrasional sesuai tingkat kemampuan budaya manusianya. Peta kognitif itu merupakan alat bagi kita memecahkan masalah, yaitu menuntun kita kepada pengambilan keputusan dan perilaku kita terhadap lingkungan.

    Adapun interaksi antara persepsi, kognisi, dan perilaku itu dikontrol oleh sistem nilai dalam masyarakat.

    Gejala yang secara nyata dikenali oleh indra manusia itu tidaklah mampu memberikan penjelasan apa-apa tanpa manusia sendiri memberinya penafsiran. Konsep merupakan pola abstrak tentang sesuatu gejala yang nyata itu dalam gambaran pikiran kita. Konsep adalah pola abstrak dalam bentuk pengertian atau abstraksi mengenai suatu gejala yang kita kaji. Konsep geografi mengenai gejala geografi, berfungsi sebagai ungkapan kunci atau istilah yang disepakati oleh para Geografer untuk mengungkapkan arti dan kebermaknaan berbagai faktor, gejala dan masalah yang menjadi obyek studi geografi.

    Ada banyak ahli geografi yang mengemukakan konsep-konsep geografi. Getrude Whipple, misalnya, mengemukakan lima kategori utama konsep geografi sebagai berikut (dalam Sumaatmadja, 1981):

    1. The earth as a planet;
    2. Varied ways of living;
    3. Varied natural regions;
    4. The significance of region to man;
    5. The importance of location in understanding world affairs.

    Konsep the earth as a planet, konsep tentang kedudukan bumi sebagai sebuah planet di tata surya mengantar kita kepada persepsi, abstraksi dan pemahaman mengenai gejala mulai dari bentuk bumi yang bulat (speroid) dengan variasi bentuk permukaan daratan dan samudera serta keterkaitan hubungan gravitasi, peredaran (rotasi, revolusi) dengan segala akibat pengaruhnya pada berbagai gejala di permukaan bumi. Bumi adalah satu-satunya planet di tata surya yang berpenghuni manusia, atau satu-satunya planet di tata surya kita ini yang bisa dihuni oleh manusia hanyalah bumi; mengapa?. Demikian pula dalam memahami konsep-konsep lainnya.

    Henry J. Warman (dalam Sumaatmaja, 1981), mengemukakan 15 konsep geografi sebagai berikut :

    1. Regional consept;
    2. Life-layer consept;
    3. Man ecological dominant concept;
    4. Globalism concept;
    5. Spatial interaction concept;
    6. Areal relationships concept;
    7. Areal likenesses concept;
    8. Areal differences concept;
    9. Areal uniquenesses concept;
    10. Areal distribution concept
    11. Relative location concept;
    12. Comparative advantage concept;
    13. Perspectual transformation concept;
    14. Culturally defined resources concept;
    15. Round earth on flat paper concept.

    Sesungguhpun banyak dari istilah konsep geografi yang tidak dapat dikatakan “khas geografi”. Sedikitnya ada enam pengertian yang benar-benar dikembangkan melalui studi geografi yaitu : globalisme, diversitas-variabilitas, lokasi keruangan, kebersangkutan, perubahan dan wilayah budaya. (Frederic R. Steinhanser, 1963).

    1. Globalisme 
    Konsep ini terwujud dari hasil studi tentang bumi sebagai suatu bentuk “sphaira” atau bola, dan bumi sebagai bagian dari tata-surya. Bentuk bumi seperti itu (speroid), peredarannya, dan hubungannya dengan matahari, menghasilkan kejadian-kejadian penting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup yang lain. Inklinasi sumbu-sumbu dan revolusi bumi mengelilingi matahari menghasilkan musim dan zona iklim; rotasi bumi menimbulkan gejala siang-malam, mempengaruhi gerakan air dan udara. Studi tentang globe sebagai model (miniatur) dari bumi memberikan dasar pengertian tentang grid-paralel dan meridian, yang selanjutnya memberikan pengertian tentang waktu, letak geografis, hakikat skala, distorsi peta.

    Pengetahuan tentang hubungan bumi-matahari, grid, skala, distorsi peta itu sangat mendasar bagi geografi.

    2. Diversitas dan Variabilitas 
    Gejala-gejala permukaan bumi tidak sama dan tidak tersebar merata, menimbulkan kebedaan atau diversitas dari tempat ke tempat. Ada tiga buah konsep penting yang berkaitan dengan pengertian diversitas tersebut, yaitu pola, kebedaan areal, dan regionalisasi.

    a. Pola
    Gejala-gejala alam yang tersebar tidak merata pada permukaan bumi membentuk aneka ragam pola yang digambarkan pada peta dalam berbagai ragam skala. Contohnya : pola iklim dunia, pola persebaran gunung-api, pola pengaliran sungai Jeneberang, pola okupasi manusia (berladang, bertani, berdagang, industri), pola pemukiman, pola lalu-lintas, dsb. Pola-pola dari berbagai ragam gejala tersebut dapat digolong-golongkan dan dipelajari secara sistematis. Gabungan dari berbagai macam pola di suatu tempat atau wilayah akan menentukan ciri-ciri tertentu dan memberikan corak khas dari berbagai area. Keadaan areal yang berbeda-beda tersebut menjadi perhatian para ahli geografi.

    b. Kebedaan Areal
    Kebedaan areal merupakan konsep dasar geografi. Pada umumnya kebedaan areal tersebut mengacu kepada variabilitas dari permukaan bumi. Tidak ada dua tempat atau kawasan di dunia ini yang identik sama.
    Geografi terwujud karena hasrat manusia untuk mengerti tentang kebedaan (diversitas) dari permukaan bumi, yaitu kebedaan areal. Dunia ini terdiri dari tempat-tempat dan kawasan yang berbeda satu sama lain sebagai akibat dari kejadian paduan (konfigurasi) gejala-gejala yang berada di atasnya.

    c. Regionalisasi
    Sungguhpun tidak ada dua tempat yang persis sama, namun ada wilayah-wilayah geografis yang sedikit-banyak memiliki kesamaan. Wilayah yang relatif sama atau homogen itu disebut kawasan atau region.

    Lingkup kawasan (region) ditentukan oleh dasar alasan yang berbeda-beda, tergantung tujuan penyelidikan. Ada yang dasarnya kesamaan tunggal, misalnya penduduk; ada yang berdasarkan kesamaan jamak seperti iklim, vegetasi serta pertanian. Kawasan juga dapat disatukan berdasarkan intensitas hubungan. Kawasan fungsional demikian itu, contohnya sebuah pusat perdagangan di sebuah kota. Batas-batas kawasan merupakan zona yang relatif sempit (jadi bukan garis), dimana beberapa gejala atau kombinasi beberapa gejala menandai batas tersebut. Kedudukan batas-batas kawasan dapat berubah-ubah dari tempat ke tempat. Regionalisasi merupakan alat untuk dapat melakukan deskripsi dan memiliki pengertian tentang aneka-ragam kawasan dalam kurun waktu tertentu. Adapun geografi yang mempelajari kawasan atau region tersebut diberi nama Geografi Wilayah atau Geografi Regional.

    3. Lokasi Keruangan dan Areal

    a. Ruang-bumi

    Aristoteles percaya bahwa ruang merupakan kondisi logis bagi tercapainya gejala-gejala. Newton menganggap ruang sebagai “wadah” dari obyek. Berkley melihat ruang sebagai konsep mental berdasarkan koordinasi penglihatan dan pendengaran kita. Leibniz mengartikan nilai sebagai suatu gagasan yang kita ciptakan agar dapat menstruktur hubungan di antara obyek-obyek yang kita pelajari. Bila obyek ditiadakan, maka ruang akan lenyap. Jadi menurut Leibniz, ruang bersifat subyektif dan relatif. Pernyataan kita tentang ruang sangat berbeda-beda berdasarkan latar-belakang ilmu pengetahuan yang kita miliki.

    Bagi geografi, yang dimaksud dengan ruang ialah ruang bumi, dan yang diartikan sebagai “wadah” dari gejala-gejala maupun sebagai ciri dari obyek atau gejala-gejala yang secara subyektif kita ciptakan. Ruang bumi diisi oleh segala macam benda, obyek, atau gejala material dan non material yang terwujud pada permukaan bumi. Asosiasi yang kompleks dari perwujudan berbagai gejala material dan non material itu merupakan hasil dari proses perubahan yang kontinyu (berkelanjutan) merupakan hasil proses dari urutan-urutan kejadian. Ada proses fisik, proses biotik, dan juga proses budaya. Proses-proses tersebut saling berinteraksi membentuk aneka ragam paduan (konfigurasi) gejala pada permukaan bumi, merupakan sistem manusia-lingkungan (men-environment system) yang disebut juga sebagai sistem keruangan (spatial system).

    b. Lokasi
    Lokasi, merupakan suatu posisi atau kedudukan di mana sekumpulan gejala berada pada titik atau tempat tertentu pada permukaan bumi yang dibatasi oleh suatu garis atau “grid” yang abstrak (garis lintang dan garis bujur).

    c. Situs
    Situs (site) erat hubungannya dengan suatu gejala pada suatu letak fisis (physical setting) pada areal yang ditempatinya. Karena itu untuk mengerti tentang situs perlu pula mengerti tentang gejala-gejala fisis yang terdapat pada setiap kawasan atau region.
    Gejala-gejala yang biasanya diselidiki oleh geografer dalam menguraikan dan menilai suatu situs ialah:

    1. Bentuk-bentyuk permukaan (dataran rendah, pebukitan, pegunungan, lembah, plato, pulau, semenanjung, dsb.).
    2. Perairan (perairan air sungai dan air laut, drainage, sungai, danau, rawa, lautan, dsb.).
    3. Iklim (suhu, kelembaban, angin, curah hujan).
    4. Tanah dan materi tanah.
    5. Vegetasi (hutan, padang rumput, sabana, mangrove, dsb.).
    6. Mineral (minyak bumi, batubara, emas, dsb.).
    7. Situasi (situation), menjelaskan gejala dalam hubungannya dengan gejala lain. Misalnya hubungan tempat dengan tempat. Dalam hal ini diperlukan konsep jarak dan arah, juga hubungan fungsional antar tempat atau wilayah.

    Isi lokasi bukanlah sekedar posisi atau kondisi atau situasi arah dan jarak yang menyangkut tempat atau wilayah, tetapi juga menyangkut persebaran dari gejala-gejala pada permukaan bumi

    d. Ketersangkutpautan (interelatedness)
    Para ahli geografi percaya akan adanya kebersangkut-pautan di antara tempat-tempat pada permukaan bumi dan gejala-gejala pada suatu area. Istilah-istilah seperti interdependensi, interkoneksi, interaksi keruangan, dan assosiasi areal menguraikan dan menjelaskan saling hubungan antar tempat dan antar gejala pada permukaan bumi.

    1) Assosiasi areal
    Assosiasi areal menyatakan identifikasi kepada hubungan sebab akibat (kausalitas) antara gejala manusia dengan lingkungan fisiknya, yang menimbulkan ciri-ciri yang berbeda-beda pada berbagai tempat dan wilayah. Preston James menganggap konsep ini sebagai inti dari mana teori-teori geografi terbentuk. Penekanan dari konsep assosiasi ialah menunjuk kepada adanya kombinasi atau paduan (konfigurasi) dari gejala-gejala yang dapat menimbulkan kebedaan dari tempat ke tempat. Contoh sederhana dari peristiwa ini ialah hubungan antara persebaran penduduk dengan faktor kelembaban lingkungan.

    2) Interaksi keruangan
    Merupakan saling hubungan antara gejala-gejala pada tempat-tempat dan area-area yang berbeda-beda di dunia. Semua tempat pada permukaaan bumi itu diikat oleh kekuatan alam dan manusia (sumberdaya alam dan sumberdaya manusia). Terjadi gerak dari gejala-gejala tersebut dari tempat ke tempat; udara, air laut, tumbuhan dan hewan, serta manusia. Setiap kejadian berkenaan dengan hal itu akan mencerminkan adanya interaksi antar tempat. Manusia sebagai “pencipta” ilmu dan teknologi mampu berinteraksi dan bergerak dalam ruang secara leluasa melalui komunikasi dan transportasi. Migrasi dan bentuk-bentuknya misalnya terjadi di mana-mana dan menimbulkan dampak baik positif maupun negatif terhadap kehidupan sosio-budaya manusia. Semua itu menimbulkan peredaran/sirkulasi gejala-gejala secara intensif di seluruh ruang di dunia.

    1. Peredaran atau sirkulasi : menyangkut gerak dari gejala fisik, manusia, barang, dan gagasan (ide) ke seluruh penjuru dunia. Meliputi antara lain difusi kebudayaan, distribusi, perdagangan, migrasi, komunikasi dan lain sebagainya.
    2. Interdependensi : Merupakan bentuk saling-hubungan karena peredaran gejala-gejala. Dalam interdependensi, kadar ikatannya lebih kuat dan lebih nyata daripada peristiwa interrelasi. Dunia sekarang sebenarnya merupakan masyarakat-masyarakat dunia dengan saling ketergantungan yang kuat di antara negara-negara (Asean, MEE, PBB).
    3. Perubahan : Salah satu aspek paling penting di dalam geografi dunia ialah ciri dinamika dari gejala-gejala. “Panta Rhei” kata Heraklites, yang artinya “semua mengalir”. Memang di dunia ini tidak ada yang diam mutlak; apakah itu gejala alami maupun gejala buatan manusia. Manusia bersama alam mengubah ciri-ciri dari bumi.

    Geografi merupakan studi tentang masa kini. Tetapi untuk mengetahui masa sekarang, perlu mengetahui pula masa lalu (sejarah). Dalam hal ini geografi melakukan rekonstruksi kejadian-kejadian. Perubahan yang tercantum pada peta menunjuk kepada perubahan tempat dan wilayah pada permukaan bumi.
    Erat hubungannya dengan konsep perubahan, ialah konsep proses. Proses ialah kejadian yang berurutan yang menimbulkan perubahan, dalam batas waktu tertentu. Permukaan bumi ini menjadi begitu kompleks karena adanya proses-proses dalam berbagai tingkat dan tempo (Preston James). Ada tiga macam proses, yaitu proses fisik, proses biotik, dan proses sosial. Di dalam geografi ketiga macam proses tersebut dalam kenyataannya adalah satu proses utuh; penggolongan tersebut (analisis kategori) hanya berlaku dalam penyelidikan dan kajian saja.

    e. Wilayah Kebudayaan
    Salah satu konsep dari Geografi modern ialah menyangkut penyesuaian dan pengawasan manusia (kontrol) terhadap lingkungan fisiknya. Keputusan yang diambil manusia tentang penyesuaian dan pengawasan terhadap lingkungan fisis tersebut sangat ditentukan oleh pola kebudayaan yang dimiliki oleh masing-masing masyarakat. Kebudayaan dapat diartikan secara sempit dan secara luas. Secara sempit sebagai aspek yang menarik seperti kesenian, tata-krama, ilmu dan teknologi. Secara luas kebudayaan diartikan sebagai hasil dari daya akal atau daya budi manusia yang merupakan keseluruhan yang kompleks menyangkut pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, hukum dan lain-lain. Kemampuan atau kebiasaan yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat (E.B.Taylor).

    Di dalam Geografi, kebudayaan diartikan secara luas. Herskovits mengartikannya sebagai “man-made part of the environment”, sedang C.Kluckhohn sebagai “way of live”. P.V. de la Blache menyebutnya sebagai “genre de vie”, yaitu tipe-tipe proses produksi yang dipilih manusia dari kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh tanah, iklim, dan ruang yang terdapat pada suatu wilayah atau kawasan, serta tingkat kebudayaan (dalam arti sempit) di wilayah tersebut.

    Geografi tetap konsisten dengan obyek studinya yaitu melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Geografi pun mengajarkan kearifan teknologi dalam mengelola alam lingkungan hidupnya manusia.

     

    Hakikat Geografi
    Tulisan I | Tulisan II | Tulisan III

    Permalink

  • 05Nov

    Dalam filsafat ilmu pengetahuan ditegaskan bahwa suatu pengetahuan yang sistematis disebut ilmu pengetahuan bila memiliki sekurang-kurangnya tiga aspek, yaitu aspek ontologis, aspek epistemologis dan aspek aksiologis atau aspek fungsional. Hakikat Geografi sebagai ilmu pengetahuan dapat ditelusuri melalui kaitan bagian permukaan bumi dengan kehidupan manusia.

    1. Aspek Ontologis
    Aspek ontologis suatu disiplin ilmu pengetahuan menghendaki adanya rumusan (batasan) mengenai obyek studi yang jelas dan tegas sehingga menunjukkan perbedaan dengan bidang-bidang ilmu pengetahuan lainnya. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, Geografi merupakan studi tentang :

    1. Bentangan atau landskap.
    2. Tempat-tempat (jenis, Lukerman).
    3. Ruang, khususnya yang ada pada permukaan bumi (E. Kant).
    4. Pengaruh tertentu dari lingkungan alam kepada manusia (Houston, Martin).
    5. Pola-pola ruang yang beraneka ragam (Robinson, Lindberg, dan Brinkman).
    6. Perbedaan wilayah dan integrasi wilayah (Hartshorne).
    7. Proses-proses lingkungan dan pola-pola yang dihasilkannya (Barlow-Newton).
    8. Lokasi, distribusi, interdependensi, dan interaksi dalam ruang (Lukerman).
    9. Kombinasi atau paduan, konfigurasi gejala-gejala pada permukaan bumi (Minshull).
    10. Sistem manusia-lingkungan.
    11. Sistem manusia-bumi (Berry).
    12. Saling hubungan di dalam ekosistem (Morgan, Moss).
    13. Ekologi manusia.
    14. Kebedaan areal dari paduan gejala-gejala pada permukaan bumi (Hartskorus).

    Ini berarti bahwa aspek ontologis geografi mencakup interrelasi, interaksi, dan interdependensi bagian permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan) itu dengan manusia. Pengertian bagian permukaan bumi itu mencakup juga lingkungan fauna, flora, dan biosfer. Unsur ruang atau wilayah atau tempat itulah yang menjadi perhatian geografi sejak dulu. Tidak ada disiplin ilmu lain yang memperhatikan fakta tentang ruang, yang justru penting sebagai tempat dari aneka ragam gejala dan kejadian di permukaan bumi kita ini. Geografi memperhatikan ruang (space) dari sudut pandangan wilayah “an sich” dan bukan dari sudut pandangan gejala-gejala yang terhimpun di dalamnya. Hal tersebut yang membedakan geografi dari ilmu-ilmu lain. Maka analisis tentang “area yang kompleks” merupakan bagian perhatian utama dari geografi.

    Pada hakikatnya, Geografi sebagai bidang ilmu pengetahuan, selalu melihat keseluruhan gejala dalam ruang dengan memperhatikan secara mendalam tiap aspek yang menjadi komponen tiap aspek tadi. Geografi sebagai satu kesatuan studi (unified geography), melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, dengan mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Gejala—interaksi—integrasi keruangan, menjadi hakekat kerangka kerja utama pada Geografi dan Studi Geografi (Sumaatmadja).

    Dalam perkembangannya, dengan obyek studi geografi tersebut melahirkan ilmu pengetahuan Geografi Fisis (Physical Geography), Geografi Manusia (Human Geography), dan Geografi Regional (Regional Geography); dengan berbagai anak cabangnya masing-masing.

    2. Aspek Epistemologis
    Aspek epistemologis (metodologis, pendekatan) geografi sejalan dengan aspek epistemologis ilmu pada umumnya, yaitu penggunaan metodologi ilmiah dengan pemikiran deduktif, pendekatan hipotesis, serta penelaahan induktif terutama di dalam tahap verifikasi. Pendekatan deduktif analisis geografi bertitik tolak dari pengamatan secara umum, yaitu dari postulat, dalil atau premis yang dianggap sudah diakui secara umum. Kemudian dari hasil pengamatan secara umum ini diambil kesimpulan secara khusus (reasoning from the general to the particular).

    Pola pendekatan induksi-empiris berpangkal tolak dari pengamatan dan pengkajian yang bersifat khusus, berdasarkan fakta dari gejala yang diamati dan dari sini diambil suatu kesimpulan secara umum (reasoning from the particular to the general). Dengan metode induksi-empiris saja, maka hukum-hukum, dalil-dalil dan teori-teori geografi hanya berlaku di suatu tempat dan waktu-waktu tertentu, sebab hukum, dalil maupun teori geografi sangat tergantung pada kondisi lingkungan setempat.

    Untuk menjembatani kedua pendekatan yang berbeda ini geografi menggunakan metode pendekatan reflective thingking; yaitu menggunakan atau menggabungkan pendekatan dedukif dan induktif secara hilir-mudik dalam penelitian geografi.

    Terdapat tiga macam cara untuk menyelidiki realita pada permukaan bumi (menurut Kant, Hettner, Hartshorne):

    1. Secara sistematis; yaitu mencari penggolongan, ketegori, kesamaan dan keadaan dari gejala-gejala yang ada pada permukaan bumi. Terjadilah ilmu-ilmu seperti biologi, fisika, kimia (tergolong ilmu-ilmu pengetahuan alam), dan ilmu-ilmu seperti sosiologi, psikologi, ekonomi, politik (tergolong ilmu-ilmu pengetahuan sosial).
    2. Secara kronologis (chronos = waktu); yaitu menyelidiki gejala-gejala pada permukaan bumi dalam urutan-urutan waktu (palaeontologi, arkeologi, sejarah).
    3. Secara korologis (choora = wilayah); yaitu menyelidiki gejala-gejala dalam hubungannya dengan ruang bumi (geografi, geofisika, astronomi).

    Dari ketiga macam pendekatan tersebut, ilmu geografi menggunakan (mengutamakan) pendekatan korologis. Penggunaan peta adalah wujud dari pendekatan korologis ini. Sehingga ada ahli geografi yang berkata, “Geografer adalah orang yang bekerja dengan peta untuk menghasilkan peta.”

    Orang yang berkecimpung dalam bidang geografi, sekurang-kurangnya harus melakukan dua jenis pendekatan, yaitu yang berlaku pada sistem keruangan [korologis] dan yang berlaku pada ekologi atau ekosystem. Bahkan untuk mengkaji perkembangan dan dinamika suatu gejala dan atau suatu masalah, harus pula menggunakan pendekatan historis atau pendekatan kronologis (Sumaatmadja, 1981).

    3. Aspek Aksiologis
    Adapun aspek aksiologi geografi adalah mengikuti pendekatan fungsional untuk kesejahteraan manusia. Keterlibatan geografi dengan aspek-aspek bidang studinya tersebut membuatnya menjadi cabang ilmu yang berfungsi menjelaskan, meramal, dan mengontrol yang diaplikasikan ke dalam Perencanaan dan Pengembangan wilayah. Aspek aksiologi ilmu pengetahuan geografi ini melahirkan Geografi Terapan.

    a. Menjelaskan
    Geografi harus dapat memberikan penjelasan tentang gejala-gejala obyek studinya. Fungsi menjelaskan memungkinkan orang akan mengerti akan gejala-gejala, bagaimana adanya (deskriptif) dan terjadinya serta mengapa itu terjadi (analisis kausalitas). Penalaran dengan logika deduktif dan induktif merupakan sarana dalam memberikan penjelasan itu. Penjelasan itu dapat dilakukan secara kualitatif dan secara kuantitatif. Sistem Informasi Geografis (SIG atau GIS = Geographic Information System) adalah inplikasi dari fungsi-fungsi menjelaskan data dari gejala geografis.

    b. Meramal
    Geografi harus dapat meramal (memprediksi) gejala-gejala yang mungkin akan terjadi ke depan. Fungsi meramal ini bertolak dari penjelasan yang telah diberikan dan yang melahirkan pengertian pada orang lain. Dengan pengertian itu orang dapat berbuat sesuatu, memanfaatkan gejala, menghindarinya, mencegah terjadinya atau pun mengurangi ekses yang mungkin merugikan sebagai akibat terjadinya gejala itu. Dengan pengertian ini, orang juga bisa membayangkan apa kira-kira yang akan terjadi apabila suatu gejala tertentu muncul.

    c. Mengontrol
    Geografi harus dapat mengontrol gejala-gejala. Ramalan dalam geografi, seperti juga dalam disiplin ilmu yang lainnya, memberikan stimuli bagi seseorang untuk mengambil inisiatif atau pun mempertimbangkan berbagai alternatif. Karena ramalan itu juga orang dapat mengatur segala sesuatu untuk mendorong terjadinya, menyambutnya, menghindarinya, mencegahnya, atau pun mengatasinya.

    Dengan hakekat demikian, maka geografi berperan untuk penyebaran efektif, pemanfaatan potensi sumberdaya, dan perbaikan lingkungan dengan segala dampaknya. Gerakan perbaikan kependudukan dan lingkungan hidup adalah salah satu manifestasi dari fungsi mengontrol untuk menghindari, mencegah atau mengatasi masalah yang sedang dan akan di hadapi di muka planet bumi ini. Demikian juga dengan penerapan pendekatan geografi dalam perencanaan dan pengembangan wilayah.

    Aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis geografi seperti ini mempermudah geografi membatasi dirinya sendiri dalam lingkup yang jelas.
    Apabila ada yang membedakan ilmu dan pengetahuan menjadi kelompok ilmu-ilmu pengetahuan alam dan ilmu-ilmu pengetahuan sosial, maka kedudukan geografi adalah menjembatani kedua kelompok ilmu tersebut. Kalau “semua” gejala pada permukaan bumi telah dipilih dan ditekuni oleh berbagai disiplin ilmu (selain Geografi), maka tempat atau ruang atau area di mana segala kejadian dan gejala itu terhimpun, tetap tidak menjadi perhatian ilmu-ilmu tersebut.

     

    Hakikat Geografi
    Tulisan I | Tulisan II | Tulisan III

     

    Permalink

  • 05Nov

    Adalah sebuah kecerobohan bagi semua cabang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dalam penerapannya tidak memahami dan menerapkan hakikat dan konsep geografi (buta geografi). Bahwa semua cabang ilmu pengetahuan empiris yang masing-masing mempelajari gejala (phenomena) di permukaan bumi tanpa memahami dan peduli sistem interrelasi, interaksi, dan interdependensi bagian permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan) itu dengan manusia pasti akan membuat kerusakan di muka bumi.

    Ilmu pengetahuan ekonomi misalnya yang paling depan kepada usaha pemenuhan kebutuhan manusia, sepanjang sejarahnya hingga kini, belum mampu menawarkan kepastian-kepastian, bahkan sering berhadapan dengan ketidak pastian dalam usahanya mensejahterakan manusia. Bahkan di satu sisi ilmu ekonomi telah melahirkan teknik-tehnik (trik-trik) bagi manusia berbuat serakah dalam mengelola sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Para ahli ekonomi masih terperangkap dalam pertarungan ideologi dan sistem ekonomi politik, kapitalisme dan sosialisme.

    Matematika dan ilmu-ilmu pengetahuan alam (MIPA) murni yang miskin (Poor Sciences) hanya dapat berbuat “onani” dalam menikmati teori-teorinya sendiri. Justru temuan-temuannya dimanfaatkan oleh bidang-bidang ilmu lain, maka ia pun “impoten”. Teknologi industri, misalnya, yang memanfaatkan teori-teori dan temuan MIPA yang diharapkan akan mengurangi waktu kerja, menikmati waktu senggang, menghemat biaya dan meningkatkan produksi guna memenuhi kebutuhan manusia, justru telah membuat manusia mengurangi waktu tidurnya dan mengeksploitasi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia secara serampangan, menempatkan manusia dalam kegelisahan. Lingkungan hidup tempat (space) manusia membangun kesejahteraan itu telah dan sedang diproses kerusakannya. Ketimpangan-ketimpangan antar wilayah, pertentangan Utara-Selatan, negara-negara kaya versus negara-negara miskin, kapitalis versus sosialis menjadi fenomena yang sudah mencemaskan.

    Penguasa-penguasa dan para ahli di Indonesia sendiri sedang “lupa” kalau citra Wilayah Indonesia adalah kepulauan dan kelautan, sehingga tidak peduli lagi bahwa kebedaan gejala antar region, antar kawasan atau antar pulau-pulau itu hanya dapat disatukan dalam inplementasi prinsip (konsep) interrelasi, interaksi, dan interdepedensi bagian permukaan bumi itu dengan manusia yang hidup di dalamnya. Kebahagiaan yang diharapkan sebagai tujuan murni ilmu pengetahuan tetap hanya ada dalam impian. Dan kekecewaan serta kecemburuan sosial antar region di negara kepulauan maritim ini sedang mengarah kepada desintegrasi bangsa ini.

    Sementara itu, suatu hal yang sering terjadi dalam mengajarkan geografi di sekolah adalah adanya “kesan”, seolah geografi sebagai mata-pelajaran “gampangan” yang dapat diberikan (diajarkan) oleh siapa saja tanpa pendidikan kegeografian. Akibatnya, geografi seakan-akan menjadi pelajaran hafalan tanpa makna, yaitu pelajaran tentang daftar panjang kota-kota, gunung-gunung, sungai-sungai, laut-laut, selat-selat, suku-suku bangsa dan sebagainya tanpa kemampuan melihat dan menjelaskan hubungan fungsional interrelasi, interaksi, dan interdepedensi bagian permukaan bumi (space, area, wilayah, kawasan) itu dengan manusia. Padahal, sesungguhnya aspek-aspek nyata dalam persepsi abstrak ini merupakan substansi yang esensial (hakiki) dalam konsep-konsep geografi dimana pendekatan deduktif, induktif dan reflective thingking terhadap obyek studi geografi sebagai ilmu pengetahuan menjadi utuh. Dalam hal ini, aspek ontologis, epistemologis dan aspek aksiologis dalam ilmu geografi merupakan suatu keutuhan (kesatuan pandang) dalam mengkaji setiap gejala di permukaan bumi dari sudut pandang studi geografi sebagai ilmu pengetahuan yang bermakna dan bernilai guna.

    Jika berbagai cabang ilmu pengetahuan telah berkembang sendiri-sendiri, mendalam dan meluas atau tinggi mengangkasa; apakah itu ilmu pengetahuan eksak maupun non-eksak, maka yang dapat menjembatani keterpisahan dan kebedaan itu adalah keilmuan geografi. Karena, seperti kata Preston E. James (1959), “Geography has sometimes been called the mother of sciences, since many fields of learning that started with observations of the actual face of earth turned to the study of specific processes wherever they might be located”.

    Kalau ada yang mengatakan bahwa filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan, maka katakan, “bahwa filsafat hanya mampu merenung di tempatnya dan menyampaikan pesan; filsafat itu hanya mengurung diri untuk menjelaskan dunia. Filsafat hanya sampai di ambang dunia tetapi tidak mendunia”. Adalah geografi yang menyatukan rasio, emosi (moral) dan empiris ke dalam tindakan nyata di ruang muka bumi ini.”

    Geografi tetap konsisten dengan obyek studinya yaitu melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi keruangan di wilayah yang bersangkutan. Geografi pun mengajarkan kearifan teknologi dalam mengelola alam lingkungan hidupnya manusia.

    Hakikat Geografi
    Tulisan I | Tulisan II | Tulisan III

    Permalink