December 2012
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Archives

Blogroll

  • -[merdekalah pikiran]- “Satu Bumi Milik Bersama…”
  • alamyin media berbagi seputar edukasi, inspirasi, ekonomi, dan lifestyle alternatif.
  • Arman Saputra Aktualisasi ‘tak Kenal Batas [melukis indonesia]
  • ioneGeo03 Berkarya tanpa batas, tanpa penindasan
  • Muh. Aris Marfai Head M.Sc program on coastal and watershed management, Geography Faculty, UGM and Head of International cooperation bureau, Geography Faculty, UGM
  • Yayat-geografi Salah satu Alumni mahasiswa UNM angkatan 2005, tepatnya di Jurusan Geografi Fakultas MIPA dan saat ini bekerja di Instansi Badan Pertanahan Nasional RI.



  • 10Dec

    SEJARAH PERKEMBANGAN KONSEP DAN PEMIKIRAN ILMU GEOGRAFI (Sebuah perjalanan dari zaman yunani kuno, kekaisaran romawi hingga era keemasan islam, abad pertengahan, hingga zaman moderen)

    Pengetahuan mengenai suatu wilayah yang meliputi aspek-aspek alamiah dengan insaniahnya, mula-mula hanya dalam bentuk cerita yang disampaikan oleh seseorang kepada yang lainnya. Terdorong oleh kebutuhan untuk mempermudah perjalanan berikutnya, secara sederhana pengalaman perjalanan itu dilukiskan ke dalam bentuk peta (Sumaatmadja, 1988; 13). Bagi kepentingan perjalanan, perdagangan, peperangan dan pertahanan, peta  tersebut sangat membantu dalam memvisualisasikan suatu objek telaahan.

    Zaman Yunani

    Pada zaman Yunani kuno, pandangan faham geografi sangat dipengaruhi oleh pandangan filsafat spekulatif maupun sejarawan, yang berusaha memadukan ilmu pengetahuan geografi dengan sejarah. Tidak sedikit uraian geografi bersifat sejarah, atau sebaliknya uraian sejarah bersifat geografi. Herodotus (485-425 S.M) contohnya, seorang sejarawan telah mengemukakan pendapatnya bahwa betapa eratnya hubungan antara perkembangan masyarakat dengan faktor-faktor geografi di wilayah yang bersangkutan. Pandangan ini sungguh tidak keliru karena kedua disiplin sosial tersebut tidak bisa melepaskan diri interaksi antara manusia dengan lingkungannnya maupun keterikatannya dengan aspek keruangan. Selanjutnya ia menganjurkan adanya penulisan hubungan diantara sejarah dan geografi (Lucile, 1960: 13). Hanya saja pandangan-pandangan tersebut masih bersifat subjektif dan cenderung spekulatif. Hal ini terbukti,pada tahun 450 s.M, Herodotus telah membuat peta dunia yang membaginya dalam tiga bagian, yaitu; Eropa, Asia, dan Libya (Afrika).

    Peta karya Herodotus

    Peta karya Herodotus tersebut sangat sederhana jika dibandingkan dengan peta yang kita kenal sekarang. Pandangan Herodotus demikian yang memusatkan Yunani sebagai poros dunia, tidak lepas sebagai pandangan tradisional yang bersifat kosmologis. Pandangan ini beranggapan bahwa pada setiap kelompok etnis maupun bangsa menganggap dirinya terpenting dari segala mahluk dan umat manusia di dunia. Daerahnya adalah pusat dari kosmos yang diberikan oleh ‘pencipta’ sebagai tempat ia hidup (Lapian,1980: 6). Walaupun karya Herodotus perlu disempurnakan, namun demikian pandangannya dan karyanya tersebut jelas sangat berharga, karena ia telah mampu memberikan kontribusi pemikirannya yang berani dan memiliki “kebenaran tertinggi” pada masanya. Oleh karena itu wajar jika waktu itu peta karya Hrodotus tersebut sering menjadi acuan bagi kepentingan pelayaran, perdagangan, maupun pengembangan pengetahuan bangsa Yunani kuno khususnya.

    Lebih-kurang empat abad kemudian, Strabo (63-24 s.M.) seorang sejarawan dan ahli geografi Yunani kuno, telah menguraikan secara panjang lebar betapa besar pengaruh lingkungan fisik manusia terhadap pengelompokan kebudayaan dan model-model pemerintahan. Ia mengemukakan bahwa pengaruh lingkungan tersebut sangat menentukan corak budaya dan pemerintahan. Dari penjelasan tersebut dapat menyimpulkan bahwa Strabo tergolong environmental determinism atau determinisme lingkungan (Sumaatmadja, 1988: 15).

    Strabo 63-24 s.M

    Pada bagian yang lain Strabo telah mengemukakan bahwa geografi berkenaan dengan faktor lokasi, karakteristik tertentu, dan antar hubungan satu tempat ke tempat lainnya di permukaan bumi secara keseluruhan. Ide kesatuan tunggal yang dikemukakan Starbo ini, dijelaskansebagai konsep natural attributes of place (atribut alamiah satu tempat), adalah kerangka relasi suatu tempat dengan tempat lainnya di permukaan bumi. Pandangan demikian hingga sekarang masih relevan sebagai salah satu konsep dan prosedur geografi modern hingga sekarang (Dickinson, 1970: 10). Bahkan dalam perkembangan selanjutnya konsep ini berkembang sebagai konsep regional. Selain itu juga ia telah membuat peta yang dikenal dengan nama “Peta Strabo”, merupakan penyempurnaan peta Herodotus.

    Peta Strabo, sebagai penyempurnaan Peta Herodotus

    Pandangan determinisme lingkungan yang dikemukakan Starbo, jika ditelusuri lebih jauh sebenarnya berasal dari Julius Caesar (100-44 s.M) dalam tulisannya yang berjudul Gallic Wars. Caesar yang merupakan tokoh pemerintahan dan ketentaraan Romawi yang terkenal itu, pada tulisannya mengemukakan faktor geografi terhadap pemerintahannya, serta pengaruh lingkungan alam terhadap kemenangannya. Semua tokoh yang menguraikan keseluruhan bumi berupa keterangan-keterangan wilayah di permukaan bumi yang tidak memperhatikan letak yang tepat tersebut serta keadaan manusianya juga secara tidak tepat (hanya mengemukakan materi secara etnografis serta kurang bersifat geografi), semuanya dapat dikategorikan dalam kelompok “aliran logoterapi” (Khiam, 1980: 7-8).

    Pelajaran geografi tentang bola bumi dengan menggunakan pendekatan dan pengukuran yang matematis, baru dilakukan oleh Pythagoras. Ketelitian demikian dilanjutkan oleh Plato dan Aristoles, maupun Eratosthenes. Keterampilan mereka sangat mempengaruhi pendekatan dan pandangannya. Bentuk bola bumi serta ukurannya di mana pembagian bumi berdasarkan lintang dan bujur, serta pergeseran matahari yang mempengaruhi daerah iklim, berasal dari pemikiran kelompok “aliran matematik” (Khiam, 1980: 9).

    Eratosthenes

    Dalam istilah geographika hal itu berarti  writing about the earth or description of the earth atau “deskripsi atau tulisan tentang bumi”. Selain dari itu, ia juga telah menghitung keliling bumi secara matematik berdasarkan perhitungan jarak Alexandria dengan Seyne (Aswan). Oleh karena itu ia dianggap sebagai peletak dasar Geografi yang pertama. Jasa Ptolomaeus pada perkembangan geografi yaitu pada pembuatan dan penggunaan peta. Setelah didapatkannya alat pencetak, peta Ptolomaeus dengan diubah sedikit, dicetak sebagai Atlas Ptolomaeus (Mitchell, 1960: 34).

    Dari penjelasan di atas telah membuktikan bahwa geografi telah berkembang sejak sebelum Masehi di Yunani khususnya. Aktivitas manusia yang paling banyak menuntut keterampilan geografi adalah perjalanan yang dilakukan para pedagang maupun tentara dalam peperangan untuk perluasan wilayah. Di antara perjalanan darat yang terkenal adalah “Via Appia” antara Roma dan Capua (350 s.M). serta “Jalan Sutera” antara Tiongkok dengan Timur Tengah pada Abad Petengahan), telah menjadi sumber materi geografi yang berharga saat itu.

    Era Keemasan Islam

    Selepas Romawi jatuh, Barat dicengkeram dalam era kegelapan. Perkembangan ilmu pengetahuan justru mulai berkembang pesat di Timur Tengah. Geografi mulai berkembang pesat pada era Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Ketika itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al- Mamun berkuasa, mereka mendorong para sarjana Muslim untuk menerjemahkan naskah-naskah kuno dari Yunani ke dalam bahasa Arab. Beberapa naskah penting dari Yunani yang diterjemahkan antara lain; Alemagest (sebuah risalah besar astronomi) dan Geographia yang keduanya merupakan karya Claudius Ptolemaeus.

    George Sarton (1884–1956) mengatakan ”Tugas utama kemanusian telah dicapai oleh para ilmuwan muslim. Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang muslim. Matematikawan terbaik Abul Kamil dan Ibn Sina adalah muslim. Ahli geografi (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik Al-Masudi adalah seorang muslim dan Al-Tabari ahli sejarah terbaik juga seorang muslim”. George Sarton melanjutkan apresiasinya kepada ilmuan muslim di bukunya yang berjudul “Introduction to the History of Science,” dengan mengatakan: “It will suffice here to evoke a few glorious names without contemporary equivalents in the West: Jabir ibn Haiyan, al-Kindi, al-Khwarizmi, al-Fargani, al-Razi, Thabit ibn Qurra, al-Battani, Hunain ibn Ishaq, al-Farabi, Ibrahim ibn Sinan, al-Masudi, al-Tabari, Abul Wafa, ‘Ali ibn Abbas, Abul Qasim, Ibn al-Jazzar, al-Biruni, Ibn Sina, Ibn Yunus, al-Kashi, Ibn al-Haitham, ‘Ali Ibn ‘Isa al-Ghazali, al-zarqab, Omar Khayyam. A magnificent array of names which it would not be difficult to extend. If anyone tells you that the Middle Ages were scientifically sterile, just quote these men to him, all of whom flourished within a short period, 750 to 1100 A.D.”

    Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al-Ma’mun yang berkuasa dari tahun 813 hingga 833 M memerintahkan para geografer muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu muncullah istilah ‘mil’ untuk mengukur jarak. Sedangkan orang Yunani menggunakan istilah ‘stadion’. Umat Islam pun mampu menghitung volume dan keliling bumi. Berbekal keberhasilan itu, Khalifah Al-Mamun memerintahkan para geografer Muslim untuk menciptakan peta bumi yang besar. Adalah Musa Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya mampu membuat peta globe pertama pada tahun 830 M. Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi yang berjudul “Surah Al-Ard” (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemaeus. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk “Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni”.

    Musa Al-Khawarizmi (780-850 M)

    Sejak saat itu, geografi pun berkembang pesat. Sejumlah geografer Muslim berhasil melakukan terobosan dan penemuan penting. Di awal abad ke-10 M, secara khusus, Abu Zayd Al-Balkhi yang berasal dari Balkh mendirikan sekolah di kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.

    Di abad ke-11 M, seorang geografer termasyhur dari Spanyol, Abu Ubaid Al- Bakri berhasil menulis kitab dengan titel “Mu’jamma Ista’jam” merupakan sebuah daftar toponyms (nama-nama tempat) yang sebagian besar terletak di Jazirah Arab. Sebagai pengantar bukunya, beliau memaparkan setting geografis Arab zaman dulu secara menarik disertai pemukiman dari masing-masing suku bangsa yang terkenal waktu itu.

    Karya monumental lainnya berjudul “Al Masalik wa Al Mamalik”. Hasil curah gagasannya yang satu ini terdiri dari beberapa jilid yang secara sendiri-sendiri membahas satu tema pokok. Jilid pengantarnya terbagi dalam geografi umum, muslim, dan non muslim. Walau tidak diterbitkan secara utuh, tetapi bagian yang menyangkut muslim barat telah lama diketahui lewat penerbitan dan terjemahan bahasa Prancis oleh Mac Guckin de Slane.

    Masih dalam disiplin geografi, buku lain yang beliau tulis adalah “Itineraries and Kingdoms” atau “Rencana-rencana Perjalanan dan Kerajaan-kerajaan”. Buku ini tidak hanya memuat keterangan-keterangan dan faktor-faktor yang bersifat geografis, tetapi juga mencakup uraian komprehensif mengenai politik, sosial historis, bahkan etnografi (ilmu bangsa-bangsa).

    Pada abad ke-12, geografer Muslim, Al-Idrisi berhasil membuat peta dunia. Al-Idrisi yang lahir pada tahun 1100 di Ceuta Spanyol itu juga menulis kitab geografi berjudul Kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala). Kitab ini begitu berpengaruh sehingga diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Geographia Nubiensis.

    Al-Idrisi (1100 – 1165 M)

    Seabad kemudian, dua geografer Muslim yakni, Qutubuddin Asy-Syirazi (1236 M – 1311 M) membuat peta Laut Tengah dan Yaqut Ar-Rumi (1179 M-1229 M) membuat “Kitab Mu’jam al-Boldaan (Encyclopedia of Lands)” dan “Kitab Mu’jam al-Udaba”, (Encyclopedia of Writers) berhasil melakukan terobosan baru. Qutubuddin mampu membuat peta Laut Putih/Laut Tengah yang dihadiahkan kepada Raja Persia. Sedangkan, Yaqut berhasil menulis enam jilid ensiklopedia bertajuk Mu’jam Al-Buldan (Ensiklopedi Negeri-negeri).

    Penjelajah Muslim asal Maroko, Ibnu Battuta di abad ke-14 M memberi sumbangan dalam menemukan rute perjalanan baru. Hampir selama 30 tahun, Ibnu Battuta menjelajahi daratan dan mengarungi lautan untuk berkeliling dunia. ia mengunjungi sebagian besar wilayah dunia Islam serta banyak daratan yang dikuasai non-muslim, perjalanannya termasuk perjalanan ke Afrika Utara, dengan Horn of Afrika (Semenanjung Somalia), Afrika Barat, Eropa Selatan dan Eropa Timur di Barat, dan ke Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Tenggara dan Cina di Timur, jaraknya melampaui tiga kali lipat penjelajah kontemporer Marco Polo. Ibnu Battuta dianggap salah satu penjelajah yang terbesar sepanjang masa. Dia bepergian lebih dari 75.000 mil (121.000 km), seorang tokoh tak tertandingi oleh penjelajahan berikutnya sampai datangnya Zaman mesin uap sekitar 450 tahun kemudian.

    Ibnu Batuta (1304–1368 atau 1369)

    Penjelajah Muslim lainnya yang mampu mengubah rute perjalanan laut adalah Laksamana Cheng Hodari Tiongkok. Memiliki nama Arab: Haji Mahmud Shams (1371 – 1433), adalah seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433. Majalah Life menempatkan laksamana Cheng Ho sebagai nomor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. 

    Laksamana Cheng Ho (1371 – 1433)

    Dia melakukan ekspedisi sebanyak tujuh kali mulai dari tahun 1405 hingga 1433 M. Mereka juga mendata sebaran obyek tematik yang diamatinya di atas peta. Muncullah antara lain geo-botani (berkembang menjadi phytogeography), untuk mencatat distribusi dan klasifikasi tumbuhan, atau geo-lingua untuk mencatat sebaran bahasa dan dialek. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat. Semasa di India termasuk ke Kalkuta, para anak buah juga membawa seni beladiri lokal yang bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.

    Geografer Muslim di Era Keemasan Islam, telah membuat banyak sumbangan pemikiran, konsep, dan perkembangan di bidang ilmu geografi yang memberi warna bagi perkembangan peradaban hingga saat ini. Diantara sekian banyak geografer muslim, berikut adalah nama-nama yang paling terkenal:

    1. Hisyam Al-Kalbi (abad ke-8 M), Dia adalah ahli ilmu bumi pertama dalam sejarah Islam. Hisyam begitu populer dengan studinya yang mendalam mengenai kawasan Arab.
    2. Musa Al-Khawarizmi (780 M – 850 M), Ahli matematika yang juga geografer itu merevisi pandangan Ptolemaues mengenai geografi. Bersama-sama 70 puluh geografer, Al-Khawarizmi membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.
    3. Al-Ya’qubi (wafat 897 M), Dia menulis buku geografi bertajuk ‘Negeri-negeri’ yang begitu populer dengan studi topografisnya.
    4. Ibn Khordadbeh (820 M – 912 M), Dia adalah murid Al-Kindi yang mempelajari jalan-jalan di berbagai provinsi secara cermat dan menuangkannya ke dalam buku Al- Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan).
    5. Al-Dinawari (828 M – 898 M), Geografer Muslim yang juga banyak memberi kontribusi pada perkembangan ilmu geografi.
    6. Hamdani (893 M – 945 M), Geografer Muslim abad ke-9 M yang mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan geografi.
    7. Ali al-Masudi (896 M – 956 M), Nama lengkapnya Abul hasan Ali Al-Ma’sudi. Ia mempelajari faktorfaktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembentukan batubatuan di bumi dengan orisinalitas yang mencengangkan.
    8. Ahmad ibn Fadlan (abad ke-10 M), Dia adalah geografer yang menulis ensiklopedia dan kisah perjalanan ke daerah Volga dan Kaspia.
    9. Ahmad ibn Rustah (abad ke-10 M), Ibnu Rustah merupakan geografer yang menulis ensiklopedia besar mengenai geografi. Al Balkhi Memberikan sumbangan cukup besar dalam pemetaan dunia. Al Kindi Selain terkenal sebagai ahli oseanografi, dia juga seorang ilmuwan multitalenta. Sebagai ahli fisika, optik, metalurgi, bahkan filosofi.
    10. Al Istakhar II dan Ibnu Hawqal (abad ke-10 M), Memberikan kontribusi besar dalam pemetaan dunia.
    11. Al-Idrisi (1099 M), Ahli geografi kesohor pada zamannya, yang juga dikenal sebagai ahli zoologi.
    12. Al Baghdadi (1162 M), Seorang geografer Muslim terkemuka.
    13. Abdul-Leteef Mawaffaq (1162 M), Selain pakar geografi, dia juga merupakan ahli pengobatan.
    14. Piri Reis (1465-1555 M), Ia memperoleh ketenaran sebagai kartografer ketika sebuah bagian kecil dari peta dunia pertama (disiapkan pada tahun 1513) ditemukan pada tahun 1929 di Istana Topkapi di Istanbul. peta dunia-Nya adalah atlas tertua Turki dikenal menunjukkan Dunia Baru, dan salah satu peta tertua Amerika masih ada di dunia. (Peta tertua Amerika yang masih ada adalah peta ditarik oleh Juan de la Cosa pada tahun 1500, yang disimpan di Museum Angkatan Laut (Museo Naval) dari Madrid, Spanyol.) Peta Piri Reis ‘berpusat di Sahara di Tropic of Cancer lintang.

    Peta Piri Reis

    Sebagai bentuk pengakuan dunia terhadap sumbangan peradaban Islam, sebanyak 24 ilmuwan dan ulama Muslim terkemuka di era kejayaan telah diabadikan menjadi nama kawah bulan. Pemberian nama ke-24 ilmuwan Muslim itu pun telah mendapat pengakuan dari International Astronomi Union disingkat IAU atau Organisasi Astronomi Internasional.

    Hanya satu nama tokoh Muslim yang tak diakui IAU menjadi nama kawah bulan, yakni Muhammad Abduh (1849 M-1905 M). Ke-24 tokoh Muslim itu resmi diakui IAU sebagai nama kawah bulan secara bertahap pada abad ke-20 M, antara tahun 1935, 1961, 1970, dan 1976. Pada awalnya, nama ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan itu disebut dalam bahasa Latin, seperti Alhazen, Azophi, Alpetragius, Albataneus, Alfraganus, dan lainnya. Namun, kemudian diberi nama aslinya dalam bahasa Arab. Berikut nama-nama tokoh dan ilmuwan Muslim yang diabadikan di kawah bulan (klik sumber); 

    1. Abulfeda. Nama lengkapnya Isma’il Ibn Abu al-Fida. Ia adalah ahli geologi dari Suriah (1273 M-1331 M).
    2. Abulwafa. Bernama lengkap Abu al-Wafa al-Buzajani. Matematikus dan astronom asal Persia (940 M-998 M).
    3. Al-Bakri. Geografer Muslim asal Andalusia itu bernama Abu `Ubayd Abdallah Ibn `Abd al-Aziz Ibn Muhammad al-Bakri (1010 M-1094 M).
    4. Al-Biruni. Ilmuwan serba bisa yang populer di Afghanistan dan India itu bernama lengkap Abu ar-Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni. Dia seorang astronom, matematikus, dan geografer (973 M-1048 M).
    5. Al-Khwarizmi. Matematikus dan astronom kelahiran Khwarizmi itu bernama lengkap Muhammad ibnu Musa al-Khwarizmi.
    6. Al-Marrakushi. Abu `Ali al-Hasan Ibn `Ali al-Marrakushi adalah astronom dan matematikus asal Maroko dan bekerja di Mesir pada abad ke-13 M.
    7. Albategnius. Muhammed bin Jaber Al-Battani dikenal di dunia Barat dengan panggilan Albategnius. Dia seorang astronom dan matematikus yang berasal dari Harran, Mesopotamia.
    8. Alfraganus. Abu ‘l-’Abbas Ahmad Ibn Muhammad Ibn Kathir al-Farghani adalah astronom terkemuka di Baghdad yang berasal dari Iran pada abad ke-9 M.
    9. Alhazen. Nama aslinya adalah Abu Ali al-Hasan Ibn al Haytham. Ahli fisika, matematika, dan astronomi itu mengabdikan hidupnya di Mesir (987 M-1038 M).
    10. Almanon. Ini merupakan nama panggilan orang Barat terhadap Abu Ja’far Abdallah al-Ma’mun ibnu Harun al-Rashid. Khalifah Dinasti Abbasiyah di Baghdad yang berkuasa pada 813 M-833 M.
    11. Alpetragius. Astronom asal Andalusia itu bernama Abu Ishaq Nur al-Din Al-Bitruji Al-Ishbili.
    12. Arzachel. Nama lengkapnya adalah Abu Ishaq Ibrahim ibn Yahya al-Naqqash al-Zarqalluh or al-Zarqali. Matematikus terkemuka ini berasal dari Toledo, Andalusia.
    13. Avicenna. Ilmuwan legendaris Muslim itu bernama Abu `Ali al-Hussayn Ibn Sina (980 M-1037 M).
    14. Azophi. Nama lengkapnya Abdurrahman Al-Sufi. Dia adalah astronom terkemuka yang menulis tentang bintang.
    15. Geber. Astronom abad ke-12 M asal Andalusia itu sebenarnya bernama Abu Muhammad Jabir Ibn Aflah al-Ishbili.
    16. Ibnu Battuta. Penjelajah dan geografer Muslim asal Maroko itu bernama Abu Abd Allah Muhammad Ibn `Abd Allah Ibn Battuta.
    17. Ibnu Firnas. Orang Barat menyebutnya Armen Firman. Insinyur pencipta kapal terbang itu bernama lengkap Abbas Ibn Firnas.
    18. Ibnu Yunus. Astronom Mesir (950 M-1009) itu bernama Abu al-Hasan bin Ahmad ibnu Yunus al-Sadafi.
    19. Ibnu-Rushd. Dokter dan filsuf Muslim asal Andalusia ini bernama Abu al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rushd.
    20. Messala. Nama lengkapnya adalah Ma-sha’ Allah ibnu Athari al-Basri. Dia adalah astronom asal Irak.
    21. Nasiruddin. Ilmuwan terkemuka asal kota Tus, Khurasan, ini bernama lengkap Muhammad ibnu Muhammad ibnu al-Hasan al-Tusi.
    22. Omar Khayyam. Dia adalah sastrawan, astronom, dan matematikus terkemuka asal Persia yang hidup pada abad ke-11 M. Dia juga dikenal dengan panggilan al-Khayyami.
    23. Thebit. Ilmuwan asal Irak ini bernama lengkap Thabit Ibn Qurrah al-Sabi’ al-Harrani Thabit Ibn Qurra. Ia hidup pada abad ke-9 M.
    24. Ulugh Beigh. Dia adalah penguasa Dinasti Timurid yang juga mencintai astronomi serta sempat membangun observatorium. Nama lengkapnya adalah Mirza Mohammad Taragai bin Shahrukh.

    Abad Pertengahan

    Selanjutnya pada abad pertengahan, perjalanan-perjalanan yang dilakukan oleh Columbus, Vasco da Gama, Fernando de Magelhaens dan lain-lain yang terkenal dengan misi 3 G (Gold, Gospel, dan Glory) telah pula menambah pengetahuan mengenai negeri lain tentang penduduk dan peradabannya.  Pengetahuan ini selain menambah materi geografi, juga telah membukakan kawasan manusia terhadap perwilayahan di permukaan bumi.

    Pada Abad Pertengahan, tokoh-tokoh ilmu pengetahuan seperti Nicolaus Copernicus (yang mengemukakan tentang teori heliosentris), Galileo Galilei, Johanes Kepler, Gerard Mercator, Wilem Jansz, dan lain-lainya, memiliki jasa yang sangat besar terhadap perkembanagan Geografi saat itu. Kemudian Bernard Varen (Varenius) telah menentukan istilah “general geography” atau “geographia generalis” yang merupakan bagian dari science yang mempelajari bumi secara umum, menguraikan pembagian dan gejala yang mempengaruhi bumi secara keseluruhan. Hal yang dikemukakannya merupakan dasar dan hukum umum yang dapat diterapkan pada geografi untuk mempelajari suatu wilayah atau negara secara khusus. Bagian geografi yang tearkhir ini disebutnya sebagai special geography atau “geographia specialis” (Harstorne, 1960: 67). Kemudian bagian geografi ini menjadi geografi regional (regional geography). Varenius juga pernah mempublikasikan studi regional mengenai Jepang dan Syam, dan uraian ini lebih bersifat matematik campuran (Sumaatmadja, 1988: 18). Tokoh-tokoh geografi dari Jerman yang sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan disiplin geografi, diantaranya; Karl Ritter, Oscar Peschel, Alexander von Humboldt, Friederich Ratzel, ErnestKapp, Alfred Hettner.

    Bernard Varen (1622–1650)

    Pandangan geografi dari tokoh-tokoh tersebut, secara singkat sebagai berikut: Alexander von Humboldt (1769-1859) dan Karl Ritter (1779-1859), dianggap sebagai peletak dasar “geografi modern” (Sumaatmadja, 1988: 18). Kedua tokoh ini berjasa dalam meletakkan dasar-dasar ilmu-pengetahuan empiris (empirical sciences) pada geografi. Prosedur induktif melalui observasi dan penjelajahan dilakukan untuk menyusun hukum-hukum umum pada studi geografi. Mereka berpegang kepada konsep filsafat holisme yang menghormati relevansi bumi dengan manusia. Hal ini dapat kita lihat dari pernyataan Ritter Hartshorne (1960: 20), “Independent to Man, the earth is also without him, to the scene of natural phenomena; the law of its formulation cannot proceed from Man. In thescience of the earth, theearth itself must be asked for its laws”. Bagi Ritter faktor alam menjad penentu bagi gejala kemanusiaan. Pandangannya tersebut mempengaruhi bagi ajaran Friederich Ratzel, di mana Ritter memasukkan faktor manusia sebagai faktor penting pada studi geografi. Hal ini bisa dilihat dari seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa ”geography to study the earth as the dwelling place man”, dan inilah yang membuat Ritter sebagai peletak dasar Geografi Sosial Modern (Sumaatmadja, 1988: 19).

    Karl Ritter (1779-1859)

    Era Modern

    Selanjutnya di era moderen, terdapat Emmanuel Kant (1724-1804) yang mendapat julukan ”Bapak Geografi Politik”, di samping sebagai peletak dasar Geografi Modern. Kemudian Charles Darwin (1809-1882) seorang ahli evolusi biologis Inggris dengan konsep natural selection, merupakan konsep yang terpenting dan berlaku hingga kini, walaupun pernah diselewengkan oleh Hitler dalam berbagai ekspansinya melalui pengembangan doktrin survival of the fittest yang sebetulnya berasal dari Herbert Spencer dalam Darwinisme Sosial. (Taylo, 2000: 783). Kemudian Frederich Ratzel (1844-1904) yang menerbitkan buku Pitsce Geographie (1897), gagasan-gasan kontemporer tentang determinisme lingkungan diterapkan pada kajian negara. Memfokuskan lokasi strategis pada skala global. Karl Haushofer (1896-1946) melanjutkan pandangan Ratzel dan Kjellen terutama pandangan tentang lebensraum ( ruang hidup ) dan paham ekspansionisme. Jika jumlah penduduk suatu wilayah suatu negara semakin banyak sehingga tidak sebanding lagi dengan luas wilayah, maka negara tersebut harus berupaya memperluas wilayahnya sebagai ruang hidup bagi warga negara. 

    Karl Haushofer (1896-1946 M)

    Kemudian pada tahun 1904 Harold Makinder menyuguhkan  “daerah poros” (pivot area), belakangan dinamakan kembali dengan teori “heartland”, yang menjadi landasan kajian kajian-kajian Geografi (1904) . Titik kulminasi dari geografi lingkungan ini muncul dalam kajaian politik dan landasan pijakan Dewrent Whittlesey yang subtil dalam The Earth and the State, titik nadirnya adalah legitimasi geopolitik Jerman terhadap perluasan wilayah Third Reich yang pernah disinggung di atas. Namun perlu diketahui bahwa geopolitik ini mundur ketika para ahli Geografi pada umumnya mencoba menggabungkan kajian-kajian mereka dengan perkembangan baru dalam ilmu-ilmu sosial. Kelemahan dalam geografi politik lingkungan ternyata adalah dalam teori sosial yang tidak memadai. Sebab ide-idenya hanya hanya bisa bertahan di luar Geografi, ketika para ahli ilmu politik mengacu kepada pengaruh-pengaruh geografi lingkungan sebagai faktor geografis atau ketika gagasan-gagasan geografi simplistik digunakan untuk menjustifikasi kebijakan-kebijakan Perang Dingin yang agresif (Taylor, 2000:783).

    Harold Mackinder (1861-1947 M)

    Tokoh lain yang juga berfaham determinisme itu adalah Ellsworth Huntington yang menulis The Pulse of Asia (1907), Palestine Its Transformation (1911) Civilization and Climate (1915). Ia seorang brilian, ahli geografi Amerika Serikat ini terkesan oleh kontras antara peradaban yang luarbiasa besar dari Asia Tengah dan Asia Barat Daya (Duverger, 1985: 420), yang secara rinci anda dapat membacanya isi teorinya tersebut pada teori-teori Geografi. Kemudian von Richthoffen (1833-1905), ia merupakan tokoh geografer yang berpengaruh. Sebagai seorang ahli Geologi, beliau mengemukakan bahwa pengertian permukaan bumi yakni bagian luar dari bumi yang terdiri dari geografi dan termasuk segala gejala yang bersangkutandengannya. Dia-lah yang memberikan batasan eksplisit bahwa “Geography is the study of the eart surface according to its differences, or the study of different areas of the earth surface in term of total characteristics” (Harsthorne, 1960: 173). Dia juga yang memperkenalkan “korografi” yang merupakan studi holistik tentang bumi dan interelsinya secara sistematik.

    von Richthoffen (1838-1905)

    Sedangkan untuk tokoh Prancis yang berjasa mengembangkan geografi adalah Paul Vidal de la Blache (1845-1914) dan Jean Brunhes (1869-1930). Blace menulis Principes de geograhie humanie (1922). Ia berusaha melepaskan visi determinismenya, namun manusia dipandang sebagai makhluk yang aktif dalam kehidupannya Oleh karena itu ia digelari sebagai “Bapak Geografi Sosial Modern” di mana dalam pernyataannya bahwa Geography is the science of places, concerned with qualities and potentialities of countries (Hartsorne, 1960: 13). Sedangkan Jean Brunhes ia menulis Geographie humaie, edisi ketiga , 3 jilid (1925), edisi singkat dalam satu jilid tahun 1947 (Duverger, 1985: 411). Dalam buku tersebut Brunches mengeluarkan teori tentang “Konflik antara Suku Bangsa Nomadik dengan Sedenter”.

    Paul Vidal de la Blache (1845-1914)

    Adalah James Fairgrive, seorang geograf Inggris yang mengemukakan bahwa geografi memiliki nilai edukatif, terutama untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap kehidupan dunia. Manusialah yang bisa mengubah secara positif lingkungan yang dikehendaki sesuai dengan kepentingan-kepentingan hidup yang bertanggung jawab. Salah satu bukunya yang terkenal adalah Geography and World Power. Sedangkan Prestone E. James dengan karyanya yang terkenal American Geography: Inventory and Prospect, merupakan tulisan yang mengetengahkan pandangannyatentang eratnya hubungan Georafi dengan sejarah sehingga dianalogikan sebagai ilmu dwi tunggal antara tempat dan waktu. Kata-kata ini sebenarnya tidak asing, karena sebelumnya pernah menjadi slogan zaman Herodotus. Namun tempat yang memberikan ruang untuk memahami perubahan berdasarkan waktu, dua-duanya tidak dapat dipisahkan, mengingat waktu juga yang menunjukkan adanaya perubahan dan kemajuan/kemunduran di suatu tempat.

    Demikian tentang perkembangan geografi, sejak disiplin ini hanya merupakan suatu cerita sampai kepada suatu perkembangan disiplin ilmu yang modern dengan pendekatan dan metodenyayang kaya baik secara kealaman, sosial, maupun humaniora, geografi senantiasa merambah di antaranya. Sebagai contoh misalnya; Geografi tata ruang ini baru muncul tahun 1960-an dan 1970-an, dan mulai diperkenalkan di saat terjadinya perkembangan dramatis studi geografi di berbagai universitas, khususnya di negara-negara yang berbahasa Inggeris. Para “pendobrak kuantitatif dan teoretik” tersebut dengan demikian dapat memperluas pandangan mengenai disiplin itu dengan bertambahnya jumlah posisi staf yang tersedia dan riset-risetnya yang memungkinkan dapat mengembangkan disiplin ini. 

    Geografi adalah disiplin akademis yang luas dan dinamis, yang memiliki akar-akarnya baik dalam ilmu pasti, alam, sosial, bahkan humaniora. Dalam cakupannya yang begitu luas, terdapat kelompok kelompok-kelompok yang beringgungan dan beririsan, baik para ahli riset maupun pengajar/pendidik, yang kesemuanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai lingkungan, tata ruang, dan tempat dengan berbagai strategi dan teknik.

    Adanya perbedaan kelompok-kelompok tersebut menyebabkan perdebatan dinamis yang tidak ada putus-putusnya mengenai alternatif-alternatif tinjauannya. Tetapi di samping itu terdapat juga sekian banyak riset dan aktivitas akademis yang substansial telah berjasa meningkatkan wawasan kita tentang bagaiamana lingkungan fisik tersusun sedemikian rupa dan bekerja. Bagaimana kehidupan manusia diorganisir secara keruangan, serta bagaimana pula tempat-tempat itu dibuat sebagai lokasi kediaman yang nyaman untuk kepentingan hidup kita.

    Pustaka

    Dickinson, Robert, E. (1970) Regional Ecology, New York: Jhon Willey & Sons. Inc.

    Duverger, Murice (1985) Sosiologi Politik, Penerjemah Daniel Dhakidae, Penyunting dan Pengantar Alfian, Jakarta: CV Rajawali.

    Hartshorne, R. (1960) Perspective on the Nature of Geography, Chicago: Rend McNally & Company.

    Khiam, Kkhoe Soe (___) Ichtisar Perkembangan Ilmu Bumi, Bandung : KPPK-BPG

    Lapian, A.B (1980) “Memperluas Cakrawala Melalui Sejarah Lokal”, dalam Prisma, No. 8, Jakarta: LP3ES, hlm.3-9.

    Lucile, Carlson, (1958) Geography and World Politics, Englewood Cliffs, New York: Prentice Hall, Inc.

    Mitchell,J.B. (1960) Historical Geography, London: The English Universities Press Limited.

    Taylor, Peter, J. (2000) “Political Geography” dalam Adam Kupper& Jessica Kupper, Ed. Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, Diterjemahkan Haris Munandar dkk. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada., hlmn. 298-300, hlmn 782-784.

    Sumaatmadja, Nursid (1988) Studi Geografi: Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan, Bandung: Alumni.

    Referensi Internet:

    http://www.monthly-renaissance.com/issue/content.aspx?id=1126, diakses tanggal 10 desember 2012

    http://geoenviron.blogspot.com/2011/07/geograf-islam-zaman-keemasan-islam.html, diakses tanggal 10 desember 2012

    http://tonyoke.wordpress.com/2009/06/16/jejak-kejayaan-islam-di-luar-angkasa/, diakses tanggal 10 desember 2012

    Permalink

    Posted by rumi d' Geographer @ 7:20 AM

    Tags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


4 + four =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Current day month ye@r *